Category Archives: Africa

Indahnya Masjid-Madrasah Al Hasan di Kairo

Kairo, 2007

Masjid (dan madrasah) Sultan Hasan adalah Masjid-Madrasah yang terletak tidak jauh dari Citadel di ibukota Mesir, Kairo. Pembangunannya dimulai tahun 757H dengan masa pembangunan selama 3 tahun tanpa ada jeda satu hari pun. Pada saat itu, konstruksi masjid tersebut dapat dikatakan fantastis dilihat dari besar ukurannya dan komponen arsitekturnya yang inovatif. Masjid ini dirancang untuk menyertakan sekolah-sekolah untuk 4 aliran Sunni : Shafi’i, Maliki, Hanafi and Hanbali.

Masjid Al Hasan dilihat dari Citadel

Masjid Al Hasan dilihat dari Citadel

Saya beserta rombongan beruntung dapat mengunjungi masjid ini ketika melakukan kunjungan ke Kairo setelah pulang umroh pada tahun 2007. Masjid ini tidak jauh letaknya dari Masjid Ali Pasha yang terletak di Citadel. Jika kita di Masjid Ali Pasha, maka dengan mudah melihat ke Masjid Al Hasan ini, demikian juga sebaliknya. Masjid ini didominasi oleh warna coklat, seperti masjid-masjid lain di Kairo, demikian juga berbagai bangunan lainnya pada umumnya di Kairo.

Berfoto di depan Pintu Masjid

Berfoto di depan Pintu Masjid

Atap pintu Masjid

Langit-langit pintu Masjid

Interior masjid ini sangat memukau. Bagian utama dimana ada mimbar untuk khutbah adalah salah satu bagian yang paling menarik. Di bagian tertentu juga kita bisa melihat adanya berkas cahaya yang masuk dari bagian (jendela) tertentu sehingga menghasilkan efek pencahayaan yang dramatis dan indah untuk dilihat.

Mimbar Masjid

Mimbar Masjid

Bagian lain yang menurut saya sangat menarik adalah adanya ruang terbuka di bagian dalam, dimana ada kubah kecil di dalamnya. Salah satu sudut pandang yang paling saya suka adalah seperti yang terlihat pada foto di bawah ini.

Bagian terbuka di dalam Masjid (foto favorit saya)

Bagian terbuka di dalam Masjid (foto favorit saya)

Tidak jauh dari kubah kecil tadi ada bagian bangunan dimana banyak tergantung lampu-lampu dari suatu atap yang sangat tinggi. Sulit menceritakannya. Lebih mudah melihat foto berikut ini.

Lampu-lampu gantung tergantung dari langit-langit yang sangat tinggi

Lampu-lampu gantung tergantung dari langit-langit yang sangat tinggi

Mesjid Muhammad Ali Pasha (2007)

Walaupun tidak seterkenal Mesjid Al-Azhar, tetapi lokasi mesjid ini yang terletak di suatu ketinggian di kota Kairo, serta halaman sekilingnya yang luas, kita dapat memandang keindahan salah satu mesjid tua ini secara utuh, seperti yang terlihat pada foto berikut. Al-Azhar dikelilingi oleh pasar serta bangunan-bangunan lainnya yang sangat berdekatan, sehingga sulit menikmati Al-Azhar secara utuh.

Mesjid Muhammad Ali Pasha di Kairo

Mesjid Muhammad Ali Pasha atau Mesjid Alabaster adalah satu mesjid tua yang megah yang terletak di kawasan Citadel (benteng) di kota Kairo. Mesjid ini dibangun antara tahun 1830-1848 atas perintah dari Muhammad Ali Pasha, untuk mengenang putra sulungnya, Tusun Pasha, yang meninggal pada tahun 1816. Arsitek mesjid ini adalah Yusuf Bushnak, dari Istambul, Turki. Mesjid ini mengambil model dari Mesjid Yeni di Istambul.

Bagian dalam atap mesjid

Bagian dalam atap mesjid

Karena terletak di daerah puncak Citadel di Kairo, mesjid yang merupakan mesjid terbesar di setengah abad pertama abad ke-18 ini dapat dikatakan merupakan bangunan menarik yang mudah terlihat dari mana-mana di kota Kairo. Saat ini, mesjid ini merupakan salah satu objek turis yang paling banyak dikunjungi di dalam kota Kairo. Lantai dasar mesjid ini didirikan di atas bangunan sebelumnya yang telah mengalami kerusakan.  Mesjid di bangun dengan satu kubah utama yang dikelilingi oleh empat kubah kecil serta 4 kubah setengah lingkaran. Bagian dalam Mesjid luar biasa indahnya. Plafon di kubah mesjid sungguh indah dan menakjubkan (lihat foto di atas). Penerangan di dalam mesjid dibentuk oleh lampu-lampu pijar yang sangat banyak yang secara khusus disusun melingkar dan memberikan kesan sebagai lampu-lampu yang melayang (lihat foto berikut).

Lampu-Lampu "melayang" di dalam Mesjid

Lampu-Lampu "melayang" di dalam Mesjid

Mesjid ini pernah mengalami kerusakan yang mengkhawatirkan, sehingga perlu dilakukan restorasi yang serius. Restorasi pertama dilakukan oleh Raja Fuad pada tahun 1931, lalu oleh Raja Farouk pada tahun 1939. Muhammad Ali Pasha sendiri dimakamkan di halaman mesjid tersebut. Jasadnya dipindahkan ke mesjid ini dari Hawsh al-Basha pada tahun 1857.

Terdapat satu menara jam kuningan yang terletak di bagian barat-laut, yang merupakah pemberian kepada Muhammad Ali dari Raja Louis Philippe dari Perancis pada tahun 1845. Pemberian tersebut dibalas dengan tugu dari Luxor yang saat ini terpasang pada tempatnya Place de la Concorde di Paris.

Tiang-tiang indah penyangga mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Tiang-tiang indah penyangga mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Lorong di pinggiran mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Lorong di pinggiran mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Halaman dalam Mesjid (klik untuk ukuran foto lebih besar)

Halaman dalam Mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Halaman dalam Mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Halaman dalam Mesjid (klik untuk memperbesar foto)

Seorang kawan sedang memotret istrinya di depan jendela mesjid

Seorang kawan sedang memotret istrinya di depan jendela mesjid (klik untuk ukuran foto lebih besar)

Beberapa sumber referensi dan artikel terkait:

  1. Mosque of Muhammad Ali (wikipedia)
  2. Muhammad Ali of Egypt (wikipedia)
  3. Citadel of Cairo (wikipedia)
  4. Saladin (wikipedia)
  5. Menara Mesjid Al-Azhar, Cairo (tutinonka.wordpress.com)
  6. Menyapa Mumi Fir’aun, Menatap Priamid (tutinonka.wordpress.com)
  7. From Cairo with Love (indah meitasari)

Piramid dan Sphinx di Giza (2007)

[tulisan ini masih di-update....]

Giza adalah satu kota yang terletak di lembah bagian barat sungai Nil, sekitar 20 km sebelah barat daya kota Kairo. Kawasan Giza atau El Giza atau dikenal juga Gizeh atau El Gizeh (Al Jizah) adalah kawasan yang sangat terkenal karena di kawasan itu ditemukan piramid-piramid dan sphinx yang dapat dikategorikan  terbesar dibandingkan dengan piramida lain yang pernah ditemukan di bumi.

Peta piramid-piramid dan sphinx di dataran Giza

Peta piramid-piramid dan sphinx di dataran Giza

Referensi dan artikel terkait:

1. Foto-foto tentang Piramid

Menikmati Sunset & Makan Malam di Tepi Sungai Nil (2007)

Memandang matahari terbenam dari tepi sungai Nil

Mendengar kata “sunset” biasanya kita akan terlintas suasana pantai laut yang indah di kala matahari terbenam. Nah, sunset yang akan saya ceritakan adalah sunset yang lain, yaitu di tepi sungai Nil. Nil yang sangat lebar dan bersih membuat suasana sunset demikian indahnya. Udara Kairo yang hampir tidak pernah ada mendung dan hujan membuat matahari sunset tampak begitu bulat dan jelas. Subhanallah, pemandangan yang sangat indah.

Meja restoran persis di tepi sungai Nil. Di kejauhan tampak matahari mulai terbenam

Ketika kami berkunjung ke Kairo setelah perjalanan Umroh, kami diajak sekali makan malam di tepi sungai Nil. Kami tiba di salah satu restoran sebelum matahari terbenam, sehingga dapat menikmati saat-saat matahari masih terang, mejelang terbenam, proses terbenam, hingga matahari terbenam penuh. Setelah matahari terbenam, kami shalat di tempat yang tersedia di restoran tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan acara makan malam sambil menikmati sungai Nil dan gemerlap gedung-gedung di seberang sungai Nil.

Istri saya dengan latar belakang sungai Nil dan matahari hampir terbenam.

Baca juga:

  1. Restoran-Restoran di Tepi Sungai Nil
  2. Kairo tetap Menawan walaupun tanpa Tari Perut
  3. Melihat dari dekat Mesjid Al-Azhar
  4. Piramida: Jalan Menuju Surga Abadi
  5. Legenda Sungai Nil
  6. Nile

Restoran-Restoran di Tepi Sungai Nil (2007)

Saya dan istri di salah satu restoran di tepi sungai Nil

Sepengamatan saya, semua area tepi sungai Nil di kota Kairo sudah dikuasai pihak-pihak tertentu. Sebagian besar digunakan untuk tujuan bisnis, diantaranya restoran. Selama beberapa hari kunjungan kami ke Kairo (2007), kami selalu diajak makan siang dan makan malam di resoran yang berbeda-beda di tepi sungai Nil.

Beberapa teman sedang makan di dalam restoran dengan jendela yang menyajikan pemandangan sungai Nil

Memang tidak membosankan. Mengapa?

Pertama, sungai Nil di kawasan Kairo ini memang sangat menawan, bersih, lebar, dan “pantai”-nya pada umumnya sangat hijau. Kedua, setiap restoran dibuat dengan style yang berbeda-beda.

Sekali-kali kita bisa melihat perahu kecil atau besar melintas di hadapan kita menyusur sungai Nil. Beberapa restoran berada dalam perahu yang berjalan menyusur sungai Nil sambil kita makan. Tapi, kami sengaja menghindari restoran tersebut karena biasanya didalamnya ada atraksi tari perut.

Sebuah perahu layar sedang berlayar di sungai Nil

Berikut adalah foto-foto lainnya, silakan klik untuk melihat tampilan yang lebih besar.

Baca juga:

  1. Menikmati Sunset dan Makan Malam di Tepi Sungai Nil
  2. Kairo tetap Menawan walaupun tanpa Tari Perut
  3. Melihat dari dekat Mesjid Al-Azhar
  4. Piramida: Jalan Menuju Surga Abadi
  5. Legenda Sungai Nil
  6. Nile

Anak-Anak Al-Azhar

Ketika kami (saya, istri, dan rombongan lainnya) berkesempatan mengunjungi mesjid Al-Azhar di Kairo, ada satu hal yang menarik, yaitu anak-anak di sekitar gerbang masuk Al-Azhar. Mungkin karena saya tidak terbiasa melihat anak-anak Mesir, sebagai orang yang hobby memotret, wajah-wajah khas mereka serta senyum dan keramahannya membuat saya senang memotretnya. Silakan lihat foto-foto berikut.

Istri saya berfoto bersama anak-anak perempuan di depan mesjid Al-Azhar. Di belakang adalah sahabat satu rombongan.

Istri saya berfoto bersama anak-anak laki-laki di Al-Azhar

Wajah-wajah lucu, cantik, dan khas.

Artikel lain yang berhubungan:

  1. Melihat dari dekat Mesjid Al-Azhar di Kairo

Melihat dari dekat Mesjid Al-Azhar di Kairo

Mesjid Al-Azhar adalah mesjid tertua di Kairo yang mulai dibangun tahun 359H atau 970M, lebih dari 1000 tahun yang lalu, tidak terlalu lama setelah kota kairo didirikan. Memang luar biasa jika mesjid tersebut sampai saat ini masih berdiri kokoh di kawasan El Hussein Square di bagian kota tua Kairo. Al-Azhar dibangun di sebelah tenggara kota Kairo, dekat dengan Istana Besar yang waktu itu ada diantara daerah Ad-Daylam sebelah timur dan Daerah At-Turk sebelah selatan.

Al-Azhar adalah masjid Jami’ pertama yang dibangun di Kairo. Pada saat dibangun ia berbentuk satu bangunan yang terbuka di tengahnya (dalam bahasa Arab disebut Shohn, meniru arsitektur Masjid Al-Haram), di dalamnya ada 3 ruwaq (ruangan khusus yang dipergunakan untuk kegiatan belajar atapun penampungan pelajar), yang paling besar adalah Ruwaq Al-Qiblah. Waktu itu luasnya hanya setengah luas yang ada sekarang.

Adalah Jawhar Al-Shiqillilah, panglima perang penguasa ke-4 Dinasti Fathimiyah: Al-Mu‘iz li Dinillah, yang memulai pendirian masjid ini pada 24 Jumada Al-Awwal 359 H/4 April 970 M. Sementara peresmian masjid ini dilaksanakan dengan shalat Jumat di dalamnya pada Ramadhan 361 H/Juli 972 M. Masjid ini, kala itu, dirancang sebagai pusat pembinaan kaum Muslim.

Nama Al-Azhar berhubungan erat dengan Dinasti Fatimiyyah yang mendirikannya. Dikatakan bahwa Al-Azhar sebagai simbol bagi Fatimah Az-Zahraa radliyallahu anha putri Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wa sallam. Sebagaimana salah satu koridor Al-Azhar dinamai dengan Fatimah radliyallahu anha. Al-Mustanshir dan Al-Hafizh juga ikut menambah sedikit luas masjid Al-Azhar. Dinasti Fatimiyyah adalah Dinasti Syiah Bathiniyyah yang berusaha untuk menyebarkan ajarannya tersebut dengan mendirikan Al-Azhar.

Daftar Referensi dan Artikel yang Relevan

  1. http://pwkpersis.wordpress.com/2008/05/10/sejarah-al-azhar-bag-i/
  2. http://tutinonka.wordpress.com/2008/03/18/menara-masjid-al-azhar-cairo/
  3. http://www.islamicarchitecture.org/architecture/alazharmosque.html
  4. http://www.sacred-destinations.com/egypt/cairo-al-azhar-university.htm
  5. Anak-Anak Al-Azhar

Mesir tetap Menawan meskipun tanpa Tari Perut, 2007

Kairo, Mei 2007

Sebagian besar orang tahu bahwa ‘tari perut‘ adalah salah satu ciri khas Mesir. Orang yang berwisata ke Mesir, biasanya tidak pernah melewatkan ini. Sebagian besar travel agent pun selalu memasukan ke dalam acara, atau paling tidak, menawarkan untuk menyaksikan yang satu ini.

Ceritanya, saya ikut satu perjalanan Umroh dengan paket terus ke Mesir. Ketika hari terakhit di Jeddah menjelang berangkat ke Kairo, saya mengobrol dengan seorang bapak yang sudah berkali-kali pergi Umroh dan Haji. Dari obrolan, beliau tahu bahwa saya dan rombongan akan mampir ke Kairo sebelum pulang ke Indonesia. Lalu dengan bahasa yang sangat santun beliau mengingatkan saya, bahwa kita baru saja kembali dari Tanah Suci, sedangkan di Kairo ada satu atraksi default yang disebut ‘tari perut’ tadi. Beliau mengingatkan, kalau bisa, hindarilah.

Kami mampir ke Kairo memang bukan dalam rangka menonton tarian itu, hanya ingin melihat satu keajaiban dunia, mumpung sudah dekat dari Arab Saudi. Akhirnya saya obrolkan saran dari bapak yang bijak tadi kepada rombongan. Akhirnya semua sepakat, kami akan menghindarinya. Alhamdulillah, sampai meninggalkan Kairo kami tidak pernah melihatnya. Walaupun setelah kembali ke Indonesia, semua orang tidak percaya apa yang saya ceritakan. Semua berkata, “Ah ngga mungkin, ke Mesir tidak nonton tari perut!’

Di bawah ini adalah salah satu foto yang saya ambil dari jendela hotel di Kairo. Kebetulan, kamar saya dan istri menghadap ke Sungai Nil yang lebar dan bersih. Foto ini diambil pada saat matahari akan terbenam. Di kejauhan tampak 3 piramid di Giza.


Mesir tetap menawan, meskipun tanpa tari perut!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,795 other followers