Category Archives: Madinah
Indahnya Matahari Terbit Menyinari Lautan Tenda di Mina (pengalaman Haji 2009)
Mina, 2 Desember 2009
Setelah menjalani hari Arafah dan Mudzalifah kami kembali bermukim di Mina beberapa hari untuk melaksanakan Jumroh. Setelah memperhatikan langit subuh yang cerah berwarna kekuning-kuningan, pikiran saya mulai tergoda untuk pergi ke atas jembatan supaya dapat melihat dan memotret indahnya lautan tenda Mina di kala matahari mulai terbit. Akhirnya, setelah sholat Subuh, saya menyelinap sendiri keluar tenda membawa kamera saku Lumix kesayangan saya. Ternyata langit masih seperti malam, tapi suasana terang benderang karena penerangan lampu. Suasana aktivitas manusia juga sangat ramai, karena tidak berhenti kegiatan jama’ah yang pulang dan pergi menuju tempat lempar jumroh.
Ternyata matahari terbit dari balik bukit, sehingga saya perlu waktu lebih lama hingga matahari terlihat dari balik bukit. Situasi tersebut juga membuat cahaya matahari yang pertama muncul tidak kemerahan, tapi sudah menjadi cahaya kuning yang sangat kuat. Namun demikian, hamparan sinar matahari pagi tersebut tetap indah ketika mulai menyinari lautan tenda juta’an jemaah haji di seluruh dataran Mina.
The Beautiful of Sholat Formation Around Kabah (downloadable 15MP and 18MP)
These pictures taken using Canon DSLR 60D, Tamron Lense 17-50mm/f2.8 without using my eyes to see the object through the camera. These two pictures are downloadable at 15 mega pixel and 18 mega pixel. Just right click and Save As. Royalti Free.
Melihat Lebih Dekat Masjid Bir Ali (Masjid Miqot)
Madinah, 2009
Masjid Bir Ali adalah satu Masjid yang sangat penting. Mengapa? Masjid Bir Ali adalah tempat Miqot bagi penduduk Madinah yang akan ber-umroh atau berhaji, seperti yang dicontohkan pula oleh Nabi. Masjid ini tidak terlalu jauh dari Madinah, mungkin sekitar 15-20 menit dari kota Madinah, sedangkan dari Masjid ini ke Mekkah sekitar 5 jam perjalanan.
Jika kita Umroh dari Indonesia, pada umumnya setelah mendarat di Jeddah langsung ke Madinah, bermukim beberapa hari di Madinah, lalu memulai proses umroh dengan Miqot di Masjid Bir Ali, sesuai sunnah Nabi. Bagi jemaah haji Indonesia, tidak semua orang miqot di Masjid ini, karena ada yang ke Madinah dulu lalu ke Mekkah (kloter awal), tapi ada juga yang sebalinya (kloter akhir). Bagi jemaah yang ke Madinah dulu tentu akan miqot di Masjid ini.
Keterangan yang saya kutip dari buku “Sejarah Madinah Munawwarah (karangan Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani)” adalah sebagai berikut.
Masjid Miqat. Letaknya kira-kira 12 km dari Masjid Nabawi. Dinamakan Masjid Miqot karena disitulah miqot untuk penduduk Madinah dan yang melewatinya. Diriwayatkan bahwa Nabi dalam perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Mekkah, beliau berhenti dan sholat di tempat itu. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwasanya Nabi jika berangkat ke Mekkah, beliau sholah di Masjid Syajarah, dan ketika pulangnya beliau sholat di lembah Dzul Hulaifah, dan bermalam disana (Shahih Bukhari No. 1533; lihat juga Shahih Muslim No. 1257).
Mengingat kedudukannya yang amat penting dalam sejarah, Masjid ini dibangun dan direnovasi kembali oleh Raja Fahd yang menelan biasa sekitar 170 juta Real Saudi, dengan daya tampung sekitar 5000 jamaah. Tinggi kubahnya sekitar 28m, sedangkan menaranya sekitar 64m. Masjid ini disebut juga dengan Masjid Dzhul Hulaifah, Masjid Syajarah atau Masjid Mahram”.
Berdasarkan keterangan ini, Masjid Bir Ali memiliki sejumlah nama lain, yaitu Masjid Dzhul Hulaifah, Masjid Syajarah, Masjid Mahram, atau Masjid
Nama Masjid As-Syajarah mempunyai makna “pohon”. Berikut adalah kutipan dari buku “Mukjizat Mekkah dan Madinah (hal 294), menyatakan sebagai berikut.
Menurut sejarah, ada sebuah pohon akasia di kawasan Zulhulaifah yang digunakan Rasulullah SAW untuk berteduh ketika singgal di kawasan itu dalam perjalanan ke Mekah untuk menunaikan haji dan umroh. Masjid ini dibangun di tempat asal pohon itu. Oleh karena itu dinamakan “Masjid Pohon”.
Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan sholat berdekatan dengan tiang di tengah-tengah masjid ini. Pada jaman sekarang masjid ini dikenal dengan masjid Al-Muhrim (tempat niat haji atau umroh bagi penduduk Madinah atau mereka yang datang dari arah Madinah), juga dengan nama Masjid Zhulhulaifah atau Bir Ali.
Berikut ini adalah sejumlah foto lain yang memperlihatkan keindahan dan kebersihan Masjid tersebut yang saya ambil pada tahun 2009 ketika saya bersama istri saya menunaikan ibadah haji. Kami termasuk kloter akhir ketika berhaji, sehingga tidak miqot di Masjid ini. Tapi kami berkunjung juga ke Masjid ini setelah kami bermukim di Madinah sekitar 10 hari. Pada saat umroh tahun 2007 dan 2009, kami miqot di Masjid ini.
Referensi:
- Sejarah Madinah Manawwarah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, dibeli di Madinah
- Mukjizat Mekah dan Madinah, Atiq bin Ghaits al-Biladi, Khalil Ibrahim Mulla Khathir
Derai airmata ketika meninggalkan Masjid Nabawi, 2007
Tahun 2007 yang lalu saya beserta istri diajak Umroh untuk pertama kalinya oleh salah seorang teman yang sangat istimewa. Setelah berangkat dari Jakarta, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Jeddah dan kami langsung naik bis menuju Madinah dengan jarak tempuh sekitar 4-5 jam. Begitu berangkat , dan keluar kota Jeddah, kami disuguhi pemandangan yang belum pernah kami lihat sebelumnya, yaitu padang pasir tanpa batas di kiri kanan bis kecil kami. Maghrib segera tiba, dari kejauhan kami melihat indahnya matahari terbenam dengan warna kuning tidak terlalu silau. Tampak besar, utuh, dan indah sekali….
Setelah perjalanan hampir 5 jam, menjelang tengah malam, kami mulai memasuki kota Madinah. Ada kesan yang luar biasa ketika kami mulai masuk kota tersebut. Rasanya saya mendekat ke suatu tempat atau rumah dari seorang manusia yang sangat istimewa, Rasulullah, Muhammad SAW. Seseorang yang selalu kita sebut dalam sholat dan do’a kita.
Ketika bis mendekati Hotel, dari dalam bis kami sempat melihat indahnya Masjid Rasul itu di malam hari, di sela-sela antar bangunan. Ooohhhh, betapa indah dan megahnya. Segera setelah masuk kamar Hotel, ibu-ibu segera sibuk membongkar koper, sedangkan bapak-bapak yang memang di rombongan kami semuanya baru pertama kali menjalani umroh sudah tidak sabar untuk melihat dari dekat indahnya Masjid Nabawi.
Akhirnya, diantar oleh pembimbing kami, segeralah kami berjalan menuju Masjid Nabawi. Karena waktu sudah sangat larut, kami tidak bisa masuk ke dalam Masjid, sehingga kami hanya berkeliling di seputar halaman Masjid. Betapa luasnya masjid ini. Selama ini, saya sudah beberapa kali punya kesempatan pergi ke Eropa, melihat kemegahan gereja-gereja di Eropa. Saya baru menyadari bahwa ada Masjid kebanggaan umat Islam yang tidak kalah indahnya dibandingkan gereja-gereja besar di kota-kota utama Eropa. Subhanallah….
Singkatnya, beberapa hari kami tinggal di Madinah, shalat setiap saat di Masjid istimewa tersebut, memanjatkan doa di tempat yang paling istimewa di dalam masjid tersebut, sampai akhirnya kami harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah untuk menjalankan ibadah Umroh. Siang menuju sore hari kami berangkat dari Medinah menuju Mekkah. Ketika bis mulai bergerak menuju ke luar kota Madinah, di beberapa celah pandangan saya masih bisa memandang Masjid Nabawi yang sangat besar itu. Entah kenapa saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memandangnya selama masih bisa. Ada keengganan untuk meninggalkannya, rasanya saya ingin disana terus, karena merasa dekat dengan seorang manusia yang paling istimewa, Rasulullah, walaupun saya tidak pernah menemui beliau, tidak pernah bisa membayangkan wajahnya, dan Muhammad sudah meninggalkan kita berabad-abad yang lalu.
Kesediahan yang kuat tersebut tidak hanya menyebabkan tetesan airmata kecil, tapi tangisan kesedihan yang kuat seperti anak kecil menangis. Istri saya mengusap punggung saya dan berusaha menenangkan saya. Jangan terlalu bersedih kata istri saya, Insya Allah kita masih akan diberi kesempatan untuk kembali ke sini.
Alhamdulillah ya Allah, di dalam hati saya yang paling dalam ini telah Engkau tanamkan satu kecintaan yang luar biasa terhadap Rasul pilihanMu, Muhammad SAW.
Update: Alhamdulillah, Allah memberikan saya dua kali kesempatan berikutnya setelah tahun 2007, yaitu tahun 2009 saya menjankan ibadah haji bersama istri tercinta, dan tahun 2011 saya pergi umroh beserta putra bungsu saya. Semoga Allah masih akan memberikan kesempatan lainnya untuk kesana lagi….
Beautiful Nabawi, 2007
Hari kedua di Medinah kami sudah mulai menikmati kota yang ramah dan menyenangkan ini. Siang setelah shalat Zhuhur di masjid dan makan siang bersama, saya menyempatkan diri kembali ke masjid dengan membawa Canon EOS-350D saya. Istri saya istirahat di kamar, sementara saya pergi kembali ke mesjid, ingin mengabadikan keindahan mesjid Nabawi ini. Luar biasa luasnya. Dengan temperatur udara yang sangat terik, saya kelelahan berjalan mengelilingi masjid ini. Namun, panasnya suasana tersebut dapat dengan mudah sirna karena air ZamZam selalu tersedia untuk diminum, baik di dalam masjid maupun di halaman masjid.
Memotret di halaman masjid diperbolehkan, tetapi di dalam masjid tidak diperbolehkan. Pemeriksaan yang cukup ketat selalu dilakukan setiap kali memasuki masjid. Istri saya pernah harus kembali ke hotel untuk menyimpan dulu telepon yang ada kameranya. Halaman masjid yang sangat luas, membuat leluasa untuk memandang keindahan masjid ini dari berbagai sisi, juga mempermudah untuk mengadikan keindahannya dari berbagai sudut yang berbeda-beda. Berikut ini adalah sebagian foto-foto hasil keliling masjid pada siang itu.
Buat anda yang pernah kesana, semoga foto-foto ini dapat menjadi obat untuk pelipur kerinduan untuk kembali kesana. Buat anda yang belum pernah kesana, semoga dengan melihat foto-foto ini dapat membangkitkan keinginan yang kuat untuk pergi kesana. Saya tidak mempunyai foto suasana di dalam masjid, tapi jika anda ingin melihatnya, saya tunjukan link di Internet yang memperlihatkan foto di dalam masjid Nabawi. Saya juga menemukan link foto keseluruhan masjid dari jarak jauh.
- Arry Akhmad Arman -

























