Category Archives: Australia
Bercengkrama dengan Kanguru
Pada posting lainnya saya pernah menceritakan tentang kota Cairns. Sebetulnya yang akan saya ceritakan masih ada kaitannya. Ketika saya harus pergi ke Cairns, kebetulan saya punya sahabat yang sedang tinggal di kota Brisbane. Jadi, setelah dapat konfirmasi bahwa saya bisa menginap gratis di Brisbane, saya atur rute perjalanan pulang saya dari Cairns supaya mampir di Brisbane dua hari satu malam.
Setiba di bandara Brisbane, saya sudah dijemput oleh rekan saya. Namanya, Titik Respati, tapi seluruh teman-temannya memanggilnya Didoth. Kami teman SMA di SMAN 3 Bandung. Didoth sedang tinggal di Brisbane bersama seluruh anak-anak karena harus menjandi ibu asuh untuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah disana.
Dari Indonesia, saya sudah pesan ke Didoth. Doth, aku harus dapet foto dan video bersama Kanguru sebagai oleh-oleh buat anak-anak di rumah. Beres kata Didoth. Jadi, dari bandara langsung ke suatu taman/kebun binatang. Akhirnya, beres juga oleh-oleh pertama yang diminta oleh anak-anak. Ini dia foto-foto lainnya.
Kuranda, Tempat Wisata mirip Dago Pakar
Kuranda, Juli 2004
Sewaktu berkunjung ke Cairns, saya tidak mau rugi, semua yang menurut saya khas, tapi biayanya terjangkau saya coba kunjungi. Selain balon udara yang sudah saya ceritakan pada posting sebelumnya, saya tertarik untuk berkunjung ke satu kota sangat kecil yang bernama Kuranda, 25 km dari Cairns. Menurut data di Wikipedia, Kuranda hanya dihuni tidak lebih dari 1000 orang dan terletak di tengah-tengah hutan hujan Australia.
Ada beberapa cara menuju dan kembali dari Kuranda, yaitu: menggunakan kerete gantung, kereta api antik, dan mobil. Paket wisata memungkinkan kita untuk memilih. Saya pilih berangkat naik kereta api antik (Kuranda’s Scenic Railway) dan kembali naik kereta gantung.
Kereta yang digunakan memang antik, gerbongnya full terbuat dari kayu, kesannya sangat tua dan terawat (lihat foto pertama). Gerbongnya lumayan panjang (lihat foto kedua). Di tengah perjalanan menuju Kuranda, kereta berhenti di suatu lokasi dimana kita bisa turun sebentar menikmati pemandangan dan air terjun yang sangat indah. Pemandangan dari jendela gerbong kereta sepanjang perjalanan menuju Kuranda memang indah. Setelah lokasi semakin tinggi, dari kereta bisa juga menikmati pemandangan ke arah kota di lembah. Kereta juga melalui puluhan terowongan untuk menuju Kuranda.
Begitu tiba di Kuranda, satu hal yang saya ingat, yaitu tempat wisata Bukit Dago Pakar di Bandung, yang kebetulan lokasinya dekat rumah saya. Seperti itulah Kuranda, tapi lebih besar. Suasana kota sangat kecil yang dibuat menyatu dengan lingkungan hutan hujan di sekitarnya. Kita bisa masuk ke tengah bagian hutan melalui jalan setapak dan tiba di bagian kota yang lain.
Ada sejumlah tempat pertunjukan dan lokasi-lokasi yang bisa di kunjungi, termasuk berfoto bersama binatang khas Australia, yaitu Koala yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur menempel di dahan pohon. Tadinya ingin juga berfoto dengan Koala, tapi yang difoto disana, semuanya anak kecil. Masa, ada om-om yang sudah mulai sedikit beruban mau ikut berfoto juga. Ngga berani malu, ah! Saya tertarik mengunjungi ‘Butterfly Sanctuary’. Masuk ke suatu sangkar besar penuh beraneka-ragam kupu-kupu.
Setelah puas keliling-keliling, saya pulang naik kereta gantung. Sambil tunggu di stasiun kereta gantung, saya membeli satu DVD tentang Kuranda. Setiap berkunjung ke berbagai tempat saya selalu membeli buku atau video/DVD tentang tempat/kota tersebut. Buat kenang-kenangan dan memperlihatkan atau menceritakan kepada keluarga di rumah.
Lumayan antri untuk menunggu naik kereta gantung. Akhirnya sampai juga giliran saya. Saya satu gerbong gantung bersama 3 nenek-nenek. Beneran! Kalo engga percaya, nih lihat fotonya! Ga apa-apa lah, dari pada satu gerbong dengan sepasang kekasih yang ciuman di depan saya, lebih BETE lagi!
Pemandangannya memang luar biasa! Melihat ke bawah tampak pohon-pohon di hutan hujan asli yang masih belum tersentuh dan tinggi sekali. Jika diinginkan ada 2-3 lokasi dimana kita bisa turun untuk beristirahat menikmati pemandangan. Saya memilih jalan terus karena sekali turun akan perlu antri lagi untuk menunggu gondola kosong untuk meneruskan perjalanan.
Akhirnya tujuan akhir perjalanan sudah mulai kelihatan. Suatu lokasi akhir yang indah…., ada danau kecil yang indah, di pinggir jalan raya yang tidak jauh dari Cairns. Akhirnya perjalanan diteruskan dengan bis ke kota Cairns.
Setelah pulang ke rumah, saya lihat DVD yang saya beli. Disana ada penjelasan tentang proses pembuatan kereta gantung tadi. Luar biasa, demi untuk tidak merusak hutan, semua dilakukan melalui helikopter. Untuk setiap titik tiang, pertama ada tim yang diturunkan dari helikopter, lalu menebang pohon seperlunya, kemudian mengisolasi daerah tersebut supaya tidak merusak lingkungan sekitarnya. Semua orang, bahan baku bangunan, dikirim dan dibawa kembali melalui helikopter. Jika mereka meng-claim hutan itu adalah hutan perawan (belum tersentuh), saya percaya 100%.
Oh, satu hal lagi. Setelah mengalami itu semua, saya membayangkan hal yang sama di kota Bandung. Kereta gantung dari Maribaya sampai ke Dago Pakar. Tentunya akan indah sekali. Semoga tulisan ini dibaca oleh Gubernur jawa Barat yang baru nanti.
Naik Balon Udara di Cairns, 2004
Seharusnya saya bisa mengunjungi kota ini tahun 2003 ketika saya mendapatkan BEST ENGINEERING dalam Asia Pacific ICT Award 2003 untuk Indonesia dan bersama seluruh “the best” akan mengikuti tingkat Asia Pacific di Cairns, Australia. Tapi karena sesuatu hal, penyelenggaraanya dipindahkan ke Bangkok. Setahun berikutnya, tanpa diduga saya yang mewakili Indonesia untuk urusan TEIN (Trans-Euro Asia Information Network) harus mengikuti pertemuan di Cairns, Australia. Ha-ha-ha, akhirnya nyampe juga saya ke Cairns.
Cairns adalah kota wisata di bagian timur agak ke utara Australia (Queensland). Kotanya tidak terlalu besar dan banyak sekali tawaran wisata yang menarik disana. Manajemen pariwisata disana kelihatannya sangat baik. Walaupun penyelenggaranya berbagai pihak yang berbeda, tapi sistemnya sangat terintegrasi dan memudahkan pagi bara turis. Wisata yang ditonjolkan adalah wisata bahari, selain wisata-wisata lainnya. Ada satu hal yang menarik buat saya yang belum pernah saya coba sebelumnya, yaitu mencoba naik BALON UDARA (panas). Diperhatikan biayanya kalau di-kurs-kan ke rupiah hampir 1 juta rupiah. Tapi, ah, kapan lagi saya mencobanya! Akhirnya saya memutuskan untuk ikut dan memilih jadual yang sangat pagi, untuk melihat matahari terbit dari ketinggian.
Saya dijemput sekitar jam 2.30 pagi dari hotel, lalu masih keliling ke beberapa hotel untuk menjemput peserta lainnya. Lokasinya agak keluar kota dari kota Cairns. Saya tidak ingat betul waktu yang diperlukan untuk menuju kesana, mungkin sekitar 1 jam. Akhirnya sampailah kami (semua peserta) di tempat tujuan. Sudah ada beberapa balon yang sedang dalam tahap persiapan untuk digelembungkan dengan udara panas, sehingga kami bisa melihat bagaimana mempersiapkan sebuah balon supaya bisa terbang.
Setelah siap, kami diberikan kesempatan dulu untuk berfoto, lalu diberikan sedikit pengarahan untuk keseimbangan dan keselamatan. Akhirnya kami semua naik ke suatu keranjang besar yang memuat hampir 20 orang bersama kru-nya.
Bunyi semburan api untuk menciptakan udara panas terdengar sangat keras, dan balon perlahan-lahan naik. Saya melihat ke bawah dan perlahan-lahan kami meninggalkan daratan.
Wow, luar biasa! Makin tinggi, makin menakjubkan pemandangannya!
Setelah agak tinggi, kami dengan jelas melihat garis horizon yang samar-samar berwarna kuning menandakan matahari menunggu terbit di belahan daratan yang tak jauh. Kami berada di suatu daerah pertanian yang sangat luas. Sejauh mata memandang hampir tak ada rumah atau bangunan, hanya daratan dan gunung di kejauhan. Inilah pemandangan yang saya lihat ketika tidak lama kami terbang.
Warna putih yang terlihat adalah kabut yang menyelimuti daerah pertanian. Di horizon tampak bauran sinar matahari yang segera akan terbit. Allahu Akbar, hanya itu kata yang terucap dari mulut saya, sambil mata sedikit berkaca merasa bersyukur bisa menikmati keindahan ciptaanNya. Begitu indah ciptaan Tuhan, dan kita seringkali merusaknya demi suatu keserakahan.
Akhirnya, seberkas sinar warna kuning yang sangat kuat mulai terlihat. Itulah matahari yang selalu setia menyinari bumi kita setiap hari. Kami tidak sendirian, beberapa balon lain juga terbang di sekitar kami. Wah…., saya tidak bisa menceritakan betapa unik dan indahnya pemandangan waktu itu.
AKhirnya kabut di daratan mulai menghilang dan berganti dengan hijaunya daerah pertanian di bawah sana, dengan pohon-pohon yang berderet sangat rapi. Adakah pemandangan seperti ini di Indonesia? Mungkin ada, mungkin lebih bagus, tapi, apakah akan tetap ada? He-he, mengingat perambahan hutan yang masih sulit dikendalikan di Indonesia.
Singkatnya, akhirnya kami mendarat di suatu area dekat kebun mangga yang sangat luas. Kami dijemput truk butut disana (mungkin sengaja untuk memberikan kesan daerah pertanian), dan akhirnya pindah ke mobil yang lebih nyaman dan yang tadi menjemput kami dari hotel. Sebelum dikembalikan ke hotel, kami dibawa ke suatu restoran untuk sarapan pagi disana. Lalu diantarkan kembali ke hotel.










