Category Archives: Europe
Beautiful Berlin at Night (part 3)
Berlin, Dec 2004
All these pictures taken in December 2004 around Zoo train station Berlin using Canon Digital SLR 350D. The result actually not too good, because I use high ISO to get higher speed without tripod. I hope you can still enjoy all the pictures. The other Berlin Night Collections can be seen here: part1, part2.
These two picture show the Kaiser Wilhelm Memorial Church in Kurfurstendamm, near the Zoo station. The original church on the site was built in the 1890s. It was badly damaged in a bombing raid in 1943, during World War.
Beautiful Berlin at Night (part 1)
Berlin, Dec 2004
All these pictures taken in December 2004 using Canon 350D. The result actually not too good, because I use high ISO to get higher speed without tripod. I hope you can still enjoy all the pictures. The other Berlin Night Collections can be seen here.
Mont Saint Michel, a Beautiful Place in North of France
Before I go to this place, I never known that there is a beautiful and unique place called Mont Saint Michel in France. When we attend a training program in Paris, the organizer have a program to bring us to Mont Saint Michel. Fortunately, at the day that we are going to Mont Saint Michel, my wife already come from Indonesia, so she can joint that program.
Mont Saint-Michel is a small rocky tidal island in Normandy, Northern France. It is located approximately one kilometer off the country’s north-western coast of France. is a geographical region corresponding to the former Duchy of Normandy. The continental territory covers 30,627 km²[2] and forms the preponderant part of Normandy and roughly 5% of the territory of France (wikipedia). A tidal island is a piece of land that is connected to the mainland by a natural or man-made causeway that is exposed at low tide and submerged at high tide. So, Mont Saint Michel will submerge with the mainland when tide going high.
We go by TGV from Paris and finally connected by bus to Mont Saint Michel. When we close to Mont Saint Michel, the bus stopped. George Pierron ask us to go outside the bus, give explanation and ask us to enjoy a fantastic view to Mont Saint Michel. I don’t know, do you agree with me that the two above picture is fantastic?
We go to Mont Saint Michel when the tide level was low, so we can go to small rocky island of Mont Saint Michel. We take lunch together and going up to the top of the building (church). Wikipedia explain about the church as follows:
William de Volpiano, the Italian architect who had built the Abbey of Fécamp in Normandy, was chosen as building contractor by Richard II of Normandy in the 11th century. He designed the Romanesque church of the abbey, daringly placing the transept crossing at the top of the mount. Many underground crypts and chapels had to be built to compensate for this weight; these formed the basis for the supportive upward structure that can be seen today. Today Mont-Saint-Michel is seen as a Romanesque style church.
Robert de Thorigny, a great supporter of Henry II of England (who was also Duke of Normandy), reinforced the structure of the buildings and built the main façade of the church in the 12th century. In 1204 the Breton Guy de Thouars, allied to the King of France, undertook the siege of the Mount. After having set fire to the village and having massacred the population, he was obliged to beat a retreat under the powerful walls of the abbey. Unfortunately, the fire which he himself lit extended to the buildings, and the roofs fell prey to the flames. Horrified by the cruelty and the exactions of his Breton ally, Philip Augustus offered Abbot Jourdain a grant for the construction of a new Gothic-style architectural set which included the addition of the refectory and cloister.
Charles VI is credited with adding major fortifications to the abbey-mount, building towers, successive courtyards and strengthening the ramparts.
The following picture is a book of Mont Saint Michel that I bought when I visit Month Saint Michel. You can see another beautiful view of Mont Saint Michel at the cover of the book. If you want to see another explanation and good picture of this place, you can googling it in Google Image or find it in Wikipedia,
From Paris with Love
Besides Mecca and Medina (in Saudi Arabia), there is one special city that I always want to go back there: Paris! I don’t know, this city really make me (and my wife) excited. The romantic atmosphere of Paris is felt almost everywhere. Also, originality of Paris is maintained well. Old Paris that I can see in movie is still no really different with today situation in Paris. So, entering Paris make me fill like entering a dream of romantic city. Its really different with my city that I live day by day, Bandung in Indonesia.
Since my first visit to Paris in 1997, I visit Paris three times more. In 2000 I visit Paris two times, then I visit Paris for the last time in 2006. In 1997, I stay in Paris for 6 weeks, so I can feel to be a Parisian. I can enjoy day by day activities of Parisian, going anywhere by METRO or by bus. Going downstair or upstair to or from METRO station, or walking along famous Champ Elysee street from Muse du Louvre to Arch de Triomphee, or seat for a long time in the garden while enjoying free concert. Sometime, I stay in one place, waiting for the sunset to get a beautiful picture of sunset. Oh, I really miss it.
In 2000, I have to stay in Belgium for 4 months. In that period I visit Paris two times. First, I go to Paris by bus from Brussels. I went to Paris with several Indonesia students that being studied in Belgium. We stay one night in Paris. Actually, I collect many-many digital picture of Paris in that visiting, but I lost my laptop in Paris. So, I lost all of my pictures. I have a lot of interesting pictures from the top of Notre Dame and also many pictures from the top of Arch de Triomphe. There is a lot of effort needed to go to that place, because no elevator to go upstair. The second visit in 2000 was conducted by car. I joint the two Indonesian family that stay in Belgium. They rent a big car, and they still have empty seat for me.
In 2006, a close friend of me ask me to accompany him to go to Europe, including go to Paris to initiate several business cooperation. I bring my wife for that trip.
Paris is really great city…, incredible city. Many beautiful city that I already visited don’t make me have strong motivation to visit it again. But Paris is different. Event I ever visit Paris four times, I always want go back to Paris.
Mengunjungi Cucu di Dresden
Dresden, 2005
Ketika saya harus tinggal di Berlin selama empat bulan, saya menyempatkan diri mengunjungi keponakan saya (Dina, dan Aan suaminya) bersama keluarganya yang sedang sekolah di TU Dresden selama beberapa tahun. Mereka sudah punya anak dan ikut bergabung ke Dresden. Karena ibu bapaknya adalah keponakan saya, otomatis saya yang merasa masih muda (waktu itu usia baru menjelang 40) dipanggil kakek oleh anak-anak keponakan saya.
Dalam hal ini banyak faktor kebetulan. Kebetulan di Berlin tinggal sahabat ayah saya yang bernama Om Munaf. Beliau sudah hijrah dan menetap di Berlin sejak sekitar 50 tahun yang lalu. Kebetulan lagi, Om Munaf ini juga adalah sahabat dari ayahnya Dina. Akhirnya kami sepakat untuk pergi bersama pulang pergi Berlin-Dresden naik kereta. Kami pergi naik kereta paling pagi dan kembali ke Berlin naik kereta paling malam.
Kebetulan lagi, di hari tersebut sedang ada acara kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia disana, yaitu pameran serta pertunjukan kesenian yang dilakukan oleh anak-anak. Karena pertunjukkan tersebut berlangsung malam hari, jadi kami berusaha ikut menyaksikan pertunjukan tersebut setengah main. Berikutnya kami harus segera kembali ke stasiun untuk mengejar jadual kereta untuk kembali ke Berlin.
Dresden jauh lebih sepi daripada Berlin. Ketika hari sudah mulai gelap, terasa sekali bahwa kota ini jauh lebih tenang dari pada Berlin. Cerita lebih banyak tentang kota ini dan beberapa foto tentang kota ini dapat dilihat dalam tulisan saya yang lain yang berjudul “Dresden, Kota Menawan di Ujung Timur Jerman“
Dresden, Kota Menawan di Ujung Timur Jerman
Dresden adalah sebuah kota di bagian timur Jerman dan merupakan ibukota negara bagian Sachsen. Kota ini dibelah oleh sungai Elbe sehingga menjadi bagian utara dan selatan. Ada sebuah jembatan indah yang melintasi sungai tersebut. Kota ini berada hampir di ujung timur, tak jauh dari perbatasan Ceko dan Polandia. Sebelum Jerman bersatu, kota ini masuk ke dalam wilayah Jerman Timur yang dikuasai oleh Soviet. Saya berkesempatan mengunjungi kota ini di awal tahun 2005 ketika saya tinggal beberapa bulan di Berlin.
Saya mengunjungi kota ini naik kereta biasa dari Berlin, bersama Om Munaf, sahabat ayah saya. Kebetulan pada saat itu ada keluarga keponakan saya yang sedang sekolah di Dresden. Kami pulang pergi Berlin Dresden di hari yang sama, pergi menggunakan kereta paling pagi dan kembali menuju Berlin menggunakan kereta paling akhir (malam), karena hari itu kami ingin menyaksikan sebuah kegiatan masyarakat Indonesia disana berupa pameran dan pertunjukkan seni. Baca tulisan saya yang lain yang berjudul “Menengok Cucu di Dresden“
Kota Dresden didirikan oleh bangsa Slavia yang mendiami sebelah timur Jerman dari abad ke-7 sampai abad ke-10. Kaum bangsa Sorbia yang sekarang tinggal di sekitar daerah sini, masih merupakan keturunan langsung bangsa Slavia yang pernah berkuasa di sini. Kota Dresden sendiri konon didirikan pada tahun 1206, pada tahun 2006 kota ini merayakan hari jadinya yang ke 800.
Pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1813 kota ini merupakan ajang pertempuran sengit pasukan Napoleon dari Perancis melawan pasukan Austria.
Lalu pada Perang Dunia II, pada 13 Februari 1945, kota ini dibom secara dahsyat oleh pasukan Sekutu dengan hasil 135.000 jiwa penduduk kota ini tewas. Pusat kota historis juga hancur, antara lain gedung-gedung kuna.
Sejak reunifikasi atau penyatuan kembali Jerman pada tahun 1990, pusat kota historis yang hancur mulai direnovasi kembali. Sebuah contoh ialah gedung gereja Frauenkirche yang dibangun ulang menggunakan batu-batu bata asli untuk sebagian besarnya.
I Love Paris
Selain Mekkah dan Madinah, ada satu tempat yang saya selalu berharap untuk kembali mengunjunginya, yaitu PARIS. Entah mengapa, satu kota ini begitu memukau untuk saya. Romantisme Paris memang luar biasa, ditambah suasana kota yang terpelihara keasliannya, serasa kita memasuki dunia yang lain yang berbeda dengan kehidupan nyata yang sehari-hari biasa dihadapi di kota saya (Bandung) dan kota-kota lainnya di Indonesia.
Sejak mengunjungi untuk pertama kalinya tahun 1997, saya pernah tiga kali lagi mengunjunginya, yaitu tahun 2000 (dua kali) dan tahun 2006. Pada tahun 1997, saya (dan istri saya sempat menyusul kesana) sempat tinggal selama 6 minggu, sehingga dapat merasakan indahnya sehari-hari menjadi orang Paris (Parisian). Bisa menikmati jalan kaki santai kapan saja di tempat yang kita inginkan, menikmati duduk berjam-jam di taman yang indah sambil nonton konser gratis, bahkan hingga menghabiskan waktu untuk menunggu matahari terbenam untuk mendapatkan foto yang indah.
Pada tahun 2000, saya tinggal di Belgia selama 4 bulan. Pada saat itu, saya sempat dua kali pergi ke Paris. Sekali, mencoba naik bis dari Brussels; dan kedua kalinya, ikut bergabung bersama kawan-kawan yang mau piknik naik mobil bersama keluarga dari Leuven (Belgia) ke Paris. Kebetulan masih tersisa kursi kosong di mobil.
Tahun 2006, seorang kawan mengajak saya (dan istri) untuk menemani ke Eropa (termasuk ke Paris) untuk inisiasi beberapa kerjasama bisnis.
Paris memang luar biasa… Beberapa tempat indah yang pernah saya kunjungi membuat kita puas tapi tidak berkeinginan kuat untuk mengunjunginya lagi. Tapi Paris, membuat saya ingin kembali lagi kesana…. Saya ingin kesana lagi, tetapi waktu santai semakin sulit dicari….
Paris London melalui Terowongan Bawah Laut
London, 1997
Tahun 1997 adalah kesempatan kedua kalinya saya mengunjungi Eropa. Kali ini waktunya agak leluasa, sekitar 6 minggu. Saya dan 2 orang rekan berhasil mendapatkan sponsor untuk mengikuti training di Paris. Sebagai orang yang senang jalan-jalan, kesempatan ini saya manfaatkan dengan baik. Tanya sana-sini, akhirnya saya mulai paham bahwa sebagian besar negara-negara Eropa Barat tergabung dalam kelompok negara Schengen, sehingga jika kita mendapatkan visa ke salah satu negara tersebut, tidak perlu visa lagi untuk mengunjungi negara kelompok schengen lainnya (tahun 2012, ada 25 negara). Informasi selengkapnya dapat dibaca disini. Inggris tidak termasuk dalam kelompok negara tersebut, sehingga untuk bisa berkunjung kesana, kita harus mendapatkan visa yang berbeda. Karena berniat untuk mengunjungi Inggris, saya mempersiapkan visa Inggris dari Indonesia, sehingga untuk keberangkatan waktu itu saya mempersiapkan dua visa, satu visa schengen untuk ke Paris dan negara schengen lainnya, satu lagu visa Inggris.
Singkatnya, setelah tiba di Paris, saya mencari informasi yang cukup tentang transportasi Paris London. Akhirnya dengan pertimbangan untuk mendapatkan pengalaman, saya pilih Eurostar, kereta api cepat jenis TGV yang bisa lari hingga 300 km/jam untuk rute Paris London dan sebaliknya. Saat itu belum krisis moneter di kawasan Asia dan Indonesia, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika ada di kisaran Rp 2300-2400 per dolar. Betapa kuatnya daya beli kita waktu itu. Saya merasa harga tiket Eurostar masih masuk akal, tidak terlalu mahal. Sementara itu kalau saya coba konversikan ke rupiah hari ini, terasa lumayan mahal harga tiket tersebut.
Saya tentukan satu tanggal di akhir minggu, lalu saya pergi ke London dengan jadual kereta paling pagi dari Paris. Saya kembali ke Paris dengan kereta yang sama dari London dengan jadual agak malam. Jadi saya tidak menginap di London, hanya menikmati satu hari penuh di London untuk jalan-jalan. Untuk memudahkan bepergian, saya membeli tiket bis turis yang berkeliling semua objek wisata utama di London. Saya membeli tiket untuk seharian, bisa turun dimana dan kapan saja, lalu naik kembali menggunakan bis yang sama untuk tujuan berikutnya. Saya hanya pergi sendirian, dan pada saat itu belum ada kamera dijital, sehingga tidak banyak foto yang saya bawa pulang dari London.
Eurostar berangkat dari stasiun utara kota Paris (Gare du Nord), sebuah stasiun yang sangat besar dan tidak dapat dibandingkan dengan stasiun-stasiun kereta api yang ada di Indonesia. Pangjangnya rangkaian gerbong kereta menyebabkan kita harus berjalan cukup jauh untuk menemukan gerbong yang sesuai dengan tiket kita. Oh ya, ketika berangkat dari Paris, kereta ini berjalan dengan kecepatan maksimum 300 km/jam, tapi setelah tiba di daratan Inggris kereta ini berjalan jauh lebih lambat. Mungkin karena rel kereta di Inggris tidak mendukung untuk memacu kereta ini pada kecepatan maksimumnya. Berikut ini adalah dua foto Eurostar yang saya dapatkan dari Internet.
Akhirnya Salju Turun di Berlin
Berlin, Desember 2004 (EOS 300D, 6MP)
Akhirnya, setelah seminggu tinggal di Berlin (baca: “Akhirnya Aku Tiba di Berlin“), salju mulai turun. “Amazing….” ketika pertama kali melihat turunnya salju dari jendela kamar. Walaupun udara dingin, saya sampai langsung membuka jendela kamar untuk merasakan langsung butiran salju dan mengamatinya dari dekat. Ternyata serpihan salju itu menyerupai kristal. Berikut ini adalah salah satu contoh snowflake yang saya peroleh dari internet.
Ketika salju turun semua permukaan akan tertutup salju yang berwarna putih. Tidak lama setelah itu, salju akan mengeras menjadi es yang akhirnya menyebabkan jalan kaki jadi sulit dilakukan karena licin. Bayangkan kita benar-benar jalan kaki di atas es, betapa dingin dan harus selalu hati-hati. Foto berikut adalah contoh suasana ketika daratan (dan apapun) tertutup salju, sehingga semuanya menjadi putih.
Dini hari, sebelum orang-orang berangkat kerja, biasanya petugas akan membersihkan salju. Minimal di lintasan yang biasanya digunakan untuk jalan kaki. Pembersihan dilakukan mulai dengan menggunakan sekop, mesin yang dipegang sambil berjalan, hingga mesin yang berbentuk mobil kecil khusus untuk membersihkan salju. Foto berikut memperlihatkan contoh permukaan yang sebagian sudah dibersihkan oleh petugas, sehingga memudahkan orang untuk berjalan kaki.

Dini hari, ketika petugas sudah membersihkan salju untuk pejalan kaki (pemandangan dari jendela kamar)
Setelah sekian lama, mengalami musim salju, saya merasa beruntung hidup di negara tropis seperti Indonesia. Perbedaan cuaca di kita tidak pernah ekstrim. Temperatur di musim hujan dan panaspun masih di kisaran selisih yang tidak terlalu besar. Bandingkan dengan negara 4 musim yang temperaturnya bisa berkisar antara minus sekian derajat di musim dingin sampai lebih dari 40 derajat di musim panas.


















































