Category Archives: France

Mont Saint Michel, a Beautiful Place in North of France

Before I go to this place, I never known that there is a beautiful and unique place called Mont Saint Michel in France. When we attend a training program in Paris, the organizer have a program to bring us to Mont Saint Michel. Fortunately, at the day that we are going to Mont Saint Michel, my wife already come from Indonesia, so she can joint that program.

Mont Saint-Michel is a small rocky tidal island in Normandy, Northern France. It is located approximately one kilometer off the country’s north-western coast of France. is a geographical region corresponding to the former Duchy of Normandy. The continental territory covers 30,627 km²[2] and forms the preponderant part of Normandy and roughly 5% of the territory of France (wikipedia). A tidal island is a piece of land that is connected to the mainland by a natural or man-made causeway that is exposed at low tide and submerged at high tide. So, Mont Saint Michel will submerge with the mainland when tide going high.

Mont Saint Michel

Mont Saint Michel

Me and My Wife near Mont Saint Michel

Me and My Wife near Mont Saint Michel

We go by TGV from Paris and finally connected by bus to Mont Saint Michel. When we close to Mont Saint Michel, the bus stopped. George Pierron ask us to go outside the bus, give explanation and ask us to enjoy a fantastic view to Mont Saint Michel. I don’t know, do you agree with me that the two above picture is fantastic?

Lunch with all participants from many countries

Lunch with all participants from many countries

We go to Mont Saint Michel when the tide level was low, so we  can go to small rocky island of Mont Saint Michel. We take lunch together and going up to the top of the building (church). Wikipedia explain about the church as follows:

William de Volpiano, the Italian architect who had built the Abbey of Fécamp in Normandy, was chosen as building contractor by Richard II of Normandy in the 11th century. He designed the Romanesque church of the abbey, daringly placing the transept crossing at the top of the mount. Many underground crypts and chapels had to be built to compensate for this weight; these formed the basis for the supportive upward structure that can be seen today. Today Mont-Saint-Michel is seen as a Romanesque style church.

Robert de Thorigny, a great supporter of Henry II of England (who was also Duke of Normandy), reinforced the structure of the buildings and built the main façade of the church in the 12th century. In 1204 the Breton Guy de Thouars, allied to the King of France, undertook the siege of the Mount. After having set fire to the village and having massacred the population, he was obliged to beat a retreat under the powerful walls of the abbey. Unfortunately, the fire which he himself lit extended to the buildings, and the roofs fell prey to the flames. Horrified by the cruelty and the exactions of his Breton ally, Philip Augustus offered Abbot Jourdain a grant for the construction of a new Gothic-style architectural set which included the addition of the refectory and cloister.

Charles VI is credited with adding major fortifications to the abbey-mount, building towers, successive courtyards and strengthening the ramparts.

My Wife and Our Training Organizer (George Pierron)

My Wife and Our Training Organizer (George Pierron)

My Wife and George Pierron's son

My Wife and George Pierron's son

The following picture is a book of Mont Saint Michel that I bought when I visit Month Saint Michel. You can see another beautiful view of Mont Saint Michel at the cover of the book. If you want to see another explanation and good picture of this place, you can googling it in Google Image or find it in Wikipedia,

The Book of Mont Saint Michel

The Book of Mont Saint Michel

From Paris with Love

Besides Mecca and Medina (in Saudi Arabia), there is one special city that I always want to go back there: Paris!  I don’t know,  this city really make me (and my wife) excited. The romantic atmosphere of Paris is felt almost everywhere. Also, originality of Paris is maintained well. Old Paris that I can see in movie is still no really different with today situation in Paris.  So, entering Paris make me fill like entering a dream of romantic city. Its really different with my city that I live day by day, Bandung in Indonesia.

Since my first visit to Paris in 1997, I visit Paris three times more. In 2000 I visit Paris two times, then I visit Paris for the last time in 2006. In 1997, I stay in Paris for 6 weeks, so I can feel to be a Parisian. I can enjoy day by day activities of Parisian, going anywhere by METRO or by bus. Going downstair or upstair to or from METRO station, or walking along famous Champ Elysee street from Muse du Louvre to Arch de Triomphee, or seat for a long time in the garden while enjoying free concert. Sometime, I stay in one place, waiting for the sunset to get a beautiful picture of sunset. Oh, I really miss it.

Me and My Wife Around Notre Dame

Me and My Wife Around Notre Dame

Enjoying Free Concert at The Backyard of Notre Dame

Enjoying Free Concert at The Backyard of Notre Dame

Me and My Wife in front of arc de Triomphe

Me and My Wife in front of arc de Triomphe

Me and My Wife in Paris Disneyland

Me and My Wife in Paris Disneyland

In 2000, I have to stay in Belgium for 4 months. In that period I visit Paris two times. First, I go to Paris by bus from Brussels. I went to Paris with several Indonesia students that being studied in Belgium. We stay one night in Paris. Actually, I collect many-many digital picture of Paris in that visiting, but I lost my laptop in Paris. So, I lost all of my pictures. I have a lot of interesting pictures from the top of Notre Dame and also many pictures from the top of Arch de Triomphe. There is a lot of effort needed to go to that place, because no elevator to go upstair. The second visit in 2000 was conducted by car. I joint the two Indonesian family that stay in Belgium. They rent a big car, and they still have empty seat for me.

In 2006, a close friend of me ask me to accompany him to go to Europe, including go to Paris to initiate several business cooperation. I bring my wife for that trip.

Me and My Wife with Eiffel Tower in the background (2006)

Me and My Wife with Eiffel Tower in the background (2006)

Eiffel Tower after Sunset (2006)

Eiffel Tower after Sunset (2006)

Paris is really great city…, incredible city. Many beautiful city that I already visited don’t make me have strong motivation to visit it again. But Paris is different. Event I ever visit Paris four times, I always want go back to Paris.

I Love Paris

Menara Eiffel, 960 hari menuju tahun 2000 (foto 1997)

Menara Eiffel, 960 hari menuju tahun 2000 (foto 1997)

Selain Mekkah dan Madinah, ada satu tempat yang saya selalu berharap untuk kembali mengunjunginya, yaitu PARIS. Entah mengapa, satu kota ini begitu memukau untuk saya. Romantisme Paris memang luar biasa, ditambah suasana kota yang terpelihara keasliannya, serasa kita memasuki dunia yang lain yang berbeda dengan kehidupan nyata yang sehari-hari biasa dihadapi di kota saya (Bandung) dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Santai berlama-lama di tamanSejak mengunjungi untuk pertama kalinya tahun 1997, saya pernah tiga kali lagi mengunjunginya, yaitu tahun 2000 (dua kali) dan tahun 2006. Pada tahun 1997, saya (dan istri saya sempat menyusul kesana) sempat tinggal selama 6 minggu, sehingga dapat merasakan indahnya sehari-hari menjadi orang Paris (Parisian).  Bisa menikmati jalan kaki santai kapan saja di tempat yang kita inginkan, menikmati duduk berjam-jam di taman yang indah sambil nonton konser gratis, bahkan hingga menghabiskan waktu untuk menunggu matahari terbenam untuk mendapatkan foto yang indah.

Matahari terbenam (jam 10 malam) di Louvre, 1997

Pada tahun 2000, saya tinggal di Belgia selama 4 bulan. Pada saat itu, saya sempat dua kali pergi ke Paris. Sekali, mencoba naik bis dari Brussels; dan kedua kalinya, ikut bergabung bersama kawan-kawan yang mau piknik naik mobil bersama keluarga dari Leuven (Belgia) ke Paris. Kebetulan masih tersisa kursi kosong di mobil.

Santai di taman sekitar Menara Eiffel (2000)

Santai di taman sekitar Menara Eiffel (2000)

Tahun 2006, seorang kawan mengajak saya (dan istri) untuk menemani ke Eropa (termasuk ke Paris) untuk inisiasi beberapa kerjasama bisnis.

Saya beserta istri di Trocadero dengan Menara Eiffel di kejauhan (2006)

Saya beserta istri di Trocadero dengan Menara Eiffel di kejauhan (2006)

Menara Eiffel menjelang malam (2006)

Menara Eiffel menjelang malam (2006)

Paris memang luar biasa… Beberapa tempat indah yang pernah saya kunjungi membuat kita puas tapi tidak berkeinginan kuat untuk mengunjunginya lagi. Tapi Paris, membuat saya ingin kembali lagi kesana…. Saya ingin kesana lagi, tetapi waktu santai semakin sulit dicari….

Paris London melalui Terowongan Bawah Laut

London, 1997

Tahun 1997 adalah kesempatan kedua kalinya saya mengunjungi Eropa. Kali ini waktunya agak leluasa, sekitar 6 minggu. Saya dan 2 orang rekan berhasil mendapatkan sponsor untuk mengikuti training di Paris. Sebagai orang yang senang jalan-jalan, kesempatan ini saya manfaatkan dengan baik. Tanya sana-sini, akhirnya saya mulai paham bahwa sebagian besar negara-negara Eropa Barat tergabung dalam kelompok negara Schengen, sehingga jika kita mendapatkan visa ke salah satu negara tersebut, tidak perlu visa lagi untuk mengunjungi negara kelompok schengen lainnya (tahun 2012, ada 25 negara). Informasi selengkapnya dapat dibaca disini. Inggris tidak termasuk dalam kelompok negara tersebut, sehingga untuk bisa berkunjung kesana, kita harus mendapatkan visa yang berbeda. Karena berniat untuk mengunjungi Inggris, saya mempersiapkan visa Inggris dari Indonesia, sehingga untuk keberangkatan waktu itu saya mempersiapkan dua visa, satu visa schengen untuk ke Paris dan negara schengen lainnya, satu lagu visa Inggris.

London

London

London

London

Singkatnya, setelah tiba di Paris, saya mencari informasi yang cukup tentang transportasi Paris London. Akhirnya dengan pertimbangan untuk mendapatkan pengalaman, saya pilih Eurostar, kereta api cepat jenis TGV yang bisa lari hingga 300 km/jam untuk rute Paris London dan sebaliknya. Saat itu belum krisis moneter di kawasan Asia dan Indonesia, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika ada di kisaran Rp 2300-2400 per dolar. Betapa kuatnya daya beli kita waktu itu. Saya merasa harga tiket Eurostar masih masuk akal, tidak terlalu mahal. Sementara itu kalau saya coba konversikan ke rupiah hari ini, terasa lumayan mahal harga tiket tersebut.

London

London

Saya tentukan satu tanggal di akhir minggu, lalu saya pergi ke London dengan jadual kereta paling pagi dari Paris. Saya kembali ke Paris dengan kereta yang sama dari London dengan jadual agak malam. Jadi saya tidak menginap di London, hanya menikmati satu hari penuh di London untuk jalan-jalan. Untuk memudahkan bepergian, saya membeli tiket bis turis yang berkeliling semua objek wisata utama di London. Saya membeli tiket untuk seharian, bisa turun dimana dan kapan saja, lalu naik kembali menggunakan bis yang sama untuk tujuan berikutnya. Saya hanya pergi sendirian, dan pada saat itu belum ada kamera dijital, sehingga tidak banyak foto yang saya bawa pulang dari London.

London

London

Eurostar berangkat dari stasiun utara kota Paris (Gare du Nord), sebuah stasiun yang sangat besar dan tidak dapat dibandingkan dengan stasiun-stasiun kereta api yang ada di Indonesia. Pangjangnya rangkaian gerbong kereta menyebabkan kita harus berjalan cukup jauh untuk menemukan gerbong yang sesuai dengan tiket kita. Oh ya, ketika berangkat dari Paris, kereta ini berjalan dengan kecepatan maksimum 300 km/jam, tapi setelah tiba di daratan Inggris kereta ini berjalan jauh lebih lambat. Mungkin karena rel kereta di Inggris tidak mendukung untuk memacu kereta ini pada kecepatan maksimumnya. Berikut ini adalah dua foto Eurostar yang saya dapatkan dari Internet.

Kereta Eurostar di Gare du Nord Paris

Kereta Eurostar di Gare du Nord Paris

Kereta Eurostar keluar dari terowongan bawah laut

Kereta Eurostar keluar dari terowongan bawah laut

Jangan Lewatkan Louvre di Waktu Malam

Paris, 2006

Jika anda sempat singgah ke kota Paris, pasti Menara Eiffel, Arch de Triomphe, dan Museum Louvre adalah target kunjungan yang tidak terlewatkan. Apalagi bagi anda yang pernah membaca buku atau menonton film Da Vinci Code yang sangat terkenal itu. Nah, saya hanya ingin mengingatkan, jika memungkinkan, jangan sampai melewatkan Louvre di waktu malam. Anda akan melihat suasana yang sangat berbeda dengan suasana di siang hari. Dibandingkan siang hari, pengunjung malam jauh lebih sedikit disini. Museum memang sudah tutup di malam hari, tapi kita bisa memandang piramid kaca Louvre yang indah di malam hari.

Mussee du Louvre di waktu malam

Mussee du Louvre di waktu malam

Perbandingan: Mussee du Louvre di siang hari

Perbandingan: Mussee du Louvre di siang hari

Mampirlah untuk berfoto di Lille-Flandre, 2006

Jika anda naik TGV (kereta api cepat, 300 km/jam) dari Paris ke arah Belgia, biasanya akan mampir di Lille-Flandre. Coba perhatikan jadual anda, jika ada waktu istirahat yang cukup (40 menit atau 1 jam), jangan buang waktu hanya untuk duduk di stasiun. Banyak pemandangan indah yang bisa anda nikmati hanya dengan jalan kaki dari stasiun. Stasiun-stasiun di Eropa pada umumnya terletak persis di jantung keramaian kota.

Pada waktu itu (2006) saya naik TGV dari Paris menuju Mons (di Belgia) dan mampir di Lille-Flandre.

Kami punya waktu jeda sekitar 1 jam, sehingga memanfaatkan untuk jalan ke luar stasiun. Ini salah satu foto dari suasana kota tersebut.

lille01.jpg

Suasana kota di sekitar stasiun Lille-Flandre.

 

lille02.jpg

Suasana di dalam kereta api TGV yang bisa melaju 300 km/jam

Hilang Laptop di Paris, 2000

Ini kedua kalinya saya ke Paris, setelah sebelumnya saya pernah ke sana pada tahun 1997. Saat itu saya harus tinggal di Belgia untuk melakukan riset selama 3-4 bulan. Di Belgia saya memilih tinggal di kota Leuven, kota pelajar dan kebetulan banyak orang Indonesia yang sedang belajar di Universitas Leuven. Waktu itu saya diajak oleh beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belgia untuk jalan-jalan ke Paris. Kebetulan mereka belum pernah kesana, sedangkan saya sudah hafal seluk beluk kota Paris karena pernah hampir 2 bulan menjelajah kota Paris pada tahun 1997.

Dari Leuven naik kereta api ke Brussels, lalu disambung naik bis ke Paris, berangkat dari Brussels Nord (stasiun utara kota Brussels). Sebetulnya ada kereta cepat Brussels-Paris (TGV, 300 km/jam), tapi karena harga tiket bis jauh lebih murah, kami naik bis. Maklum, barengan sama mahasiswa-mahasiswa yang ingin berhemat untuk memperbanyak oleh-oleh. Saya pikir tidak ada salahnya mencoba melihat pemandangan yang berbeda, karena saya pernah mencoba kereta cepat tersebut tahun 1997.

Kami menginap di penginapan yang lumayan murah, kalau di rupiahkan mungkin sekitar 300 ribuan, satu kamar di share bayar 2 orang, jadi jatuhnya cuman 150 ribuan. Itulah hebatnya bepergian dengan mahasiswa, penuh perencanaan yang akurat untuk menghemat uang. Ceritanya waktu itu teknologi kamera dijital masih sangat terbatas. Saya sudah punya SLR 1.4 Mega Pixel (ga ada yang lebih bagus, kecuali yang kelas Pro). Memori masih sangat terbatas, paling-paling 16-32 MB. Sebagai solusi untuk storage, terpaksa menggendong laptop kemana-mana, seperti yang saya lakukan waktu itu. Asyik juga, saya sempat mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya dan dengan semangat, jeprat-jepret sesukanya, karena setiap memori penuh saya bisa pindahkan ke laptop. Lebih dari 1000 foto yang saya kumpulkan, termasuk foto dari puncak Nore Dame, juga foto lonceng Notre Dame yang suka dipukul oleh si bungkuk dalam film Disney ‘The Hunchback from Notre Dame’. Harus antri untuk bisa naik ke atas, tangganya sangat kecil dan sangat curam. Perlu antri sekitar 1 jam untuk dapat kesempatan naik ke atas. Begitu sampai di atas, “Oh my God!”, pemandangannya persis dalam film ‘The Hunchback from Notre Dame’. berarti film kartun tersebut dibuat dengan sangat akurat. Saya juga sempat naik sampai ke puncak Arc de Triomphe dan bisa memandang ke arah segitiga kaca Louvre serta Place de la Defense. Tentunya banyak sekali foto yang saya ambil di kedua tempat yang belum saya kunjungi sampai ke atas di tahun 1997.

Akhirnya sampailah pada hari pulang ke Belgia. Pagi hari sebelum pulang, kami sarapan di McDonald dekat penginapan. Kami duduk di tempat duduk yang sangat tinggi sedangkan tas dan laptop kami senderkan ke kaki kursi di bawah kami. Selesai makan, saya kaget luar biasa! Laptop yang saya simpan tepat di bawah saya sudah tidak ada lagi di tempatnya! Ya….., apa boleh buat! Nyesel juga, kenapa tidak saya simpan di atas meja. Tentunya yang hilang bukan hanya laptopnya, tapi seluruh foto yang saya ambil selama dua hari penuh di Paris. Foto yang selamat hanya segelintir yang masih tersisa di memori kamera, diantaranya adalah foto di bawah ini.

paris100025.jpg

Saya coba lapor ke kantor polisi. Wah, cape….., tidak banyak orang di kantor polisi yang bisa berbahasa Inggris. Mudah-mudahan pengalaman saya ini membuat anda lebih berhati-hati. Paris kota wisata yang sangat ramai. Banyak pendatang dari berbagai penjuru dunia yang karakternya beraneka ragam. So, be careful!

- Arry Akhmad Arman -

Mudahnya transportasi kota Paris, 1997

Secara umum, kota-kota besar di negara maju mempunyai sistem transportasi yang mapan dan mudah dipahami dan digunakan, termasuk oleh pendatang. Paris adalah salah satu kota yang didukung sistem transportasi bawah tanah (Metro) yang sangat memudahkan orang bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Kami punya cerita menarik tentang bukti mudahnya sistem tranportasi di Paris.

Ceritanya, waktu itu, saya dan 2 orang rekan dosen (Pak Nana Rachmana dan Pak Ridwan) sedang mengikuti kegiatan training telekomunikasi di Paris selama 6 minggu. Kami berangkat bertiga, namun segera setelah tiba di Paris, kami semua sepakat untuk membiayai istri masing-masing agar menyusul kami ke Paris. Paris terlalu indah dilewatkan tanpa orang yang paling dicintai. Sehari-hari kami menjalani kegiatan training dari pagi sampai jam 4 sore dan kembali ke apartemen sekitar jam 5 sore.

Pagi itu adalah pagi kedatangan istri-istri kami yang menyusul dari Indonesia. Kami sudah minta ijin untuk datang terlambat ke tempat training karena harus menjemput mereka ke airport. Wajah-wajah senang tampak ketika mereka keluar dari gerbang penumpang airport Charles de Gaulle. Segera setelah bertemu, semua segera menelpon ke rumah masing-masing untuk mengabari bahwa semua sudah selamat sampai di Paris.

phone01.jpg

Singkatnya, kami segera menuju ke kota menggunakan RER langsung dari airport. RER adalah kerete regional Perancis, sedangkan Metro adalah jaringan kereta bawah tanah kota Paris. Informasi lengkap mengenai RER dan Metro dapat dilihat di Wikipedia. Kami ajak mereka ke apartemen untuk istirahat karena tampaknya kelelahan setelah terbang belasan jam dari Indonesia. Kami sudah belikan mereka tiket kereta bawah tanah dan di perjalanan menuju apartemen kami jelaskan sekilas cara penggunannya. Karena kami harus segera ke tempat training, kami meninggalkan mereka di apartemen , dengan pesan: “Jangan kemana-mana, tunggu sampai sore kami pulang“.

rer.jpg

Stasiun RER di Airport Charles de Gaulle Paris

metro.jpg

Metro kota Paris

Sore kami pulang dan merencanakan untuk mengajak mereka jalan-jalan pertama kalinya di kota Paris. Ternyata, mereka semua tidak ada di apartemen. Beruntung, tidak sampai harus menghubungi polisi, mereka semua akhirnya datang dengan berseri-seri! Rupanya, walaupun lelah luar biasa, rasa ingin tahu tentang kota Paris mengalahkan segalanya. Ditunjang oleh sistem transportasi dengan titik-titik berhenti yang sangat strategis membuat para pendatang dengan mudah memahami METRO kota Paris dan mudah mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Dengan hanya menginterpretasikan peta metro serta petunjuk lisan singkat yang sudah kami jelaskan, ketiga ibu-ibu ini bisa jalan sendiri di kota Paris dan pulang selamat ke apartemen. Rasanya hal itu imposible terjadi di Jakarta, paling mungkin, anda akan habis uang untuk membayar taksi.


- Arry Akhmad Arman -

Disneyland Paris, 1997

Jika anda belum pernah ke Disneyland, dan kebetulan sedang berada di Paris, jangan lupa, di Paris ada ‘Disneyland Paris‘ atau EuroDisney. Saya menyempatkan diri kesana pada saat mengunjungi Paris tahun 1997 bersama istri saya. Kami sekaluarga, termasuk anak-anak kami memang penggemat berat film-film kartun disney dan mengkoleksi semua filmnya. Jadi, begitu tahu ada Disneyland di Paris, tentunya tidak disia-siakan. Mengapa? Alasan lainnya, karena kami tidak yakin juga, apakah akan punya kesempatan mengunjungi Disneyland di Florida, AS.

Begitu masuk, suasana kental disney tampak dimana-mana, serasa masuk ke dunia anak-anak. Baik anak-anak, remaja maupun dewasa tampaknya memang semua lupa akan usianya. Semua menikmati apa yang ada. Pulang? Tentunya setumpuk belanjaan buat anak-anak di Bandung. Bukannya foya-foya, saat itu kami ke sana beberapa bulan sebelum krismon, sehingga kurs USD terhadap rupiah ada di kisaran 2000-2500, sehingga daya beli kita sebagai orang Indonesia masih sangat tinggi. Membeli sesuatu rasanya masih dalam batas harga yang wajar dan masuk akal. Andai kurs masih seperti dulu ……

Disneyland Paris, 1997


Untuk menuju kesana sangat mudah. Ambil RER jalur A4 jurusan Marne-la-Vallee – Chessy. Jurusan tersebut akan berakhir di Parc Disneyland (jalur merah ke arah timur). Anda bisa naik dari salah satu stasiun paling besar dan ramai, Chatelet. Jika perlu peta RER dan Metro kota Paris, silakan klik disini. Jika anda perlu informasi harga tiket Disneyland Paris, silakan klik disini.

Parc Asterix di Paris, 1997

Anda termasuk penggemar komik Asterix? Tentunya anda akan sangat familiar dengan karakter Asterix, Obelix, Idefix, Kepala desa yang selalu ditandu kemana-mana, atau dukun Panoramix yang selalu meramu obat kuat untuk melawan pasukan romawi. Sayapun tidak mengetahui sebelumnya, namun pada saat saya di Paris tahun 1997, secara kebetulan saya menemukan informasi tentang Parc Asterix di sekitar Paris.

Singkatnya, ngomporin dua teman lain yang sama-sama dengan saya untuk pergi kesana, dan berhasil! Salah satu rekan adalah juga penggemar komik Asterix, sehingga cukup menikmati suasana disana, sementara yang satu lagi tidak pernah membaca komik Asterix, sehingga suasana yang ada tidak terlalu menarik untuk dia.

Akhirnya, kami menemukan satu hal yang sangat menarik: Roller Coaster! Besar sekali, meliuk-liuk, serta dari kejauhan terdengar jeritan orang-orang yang sedang menikmatinya. Saya memutuskan untuk mencobanya berdua dengan salah satu rekan saya. Kira-kira satu jam kami mengantri untuk sampai pada kesempatan untuk menaikinya. Begitu mulai, ‘tek ketek-ketek’ suara rantai menarik rangkaian kereta kecil ke puncak. Begitu melihat ke bawah, makin tinggi, rasanya makin menyesal saja. Dipikir-pikir, ngapain ngantri satu jam untuk mencoba sesuatu yang mengerikan. Sumpah, bukan kenikmatan yang saya rasakan, tapi kengerian! Ketika sudah sampai di puncak, wah, mulai deh siksaan yang mengerikan! Ngga usah saya ceritakan, yang pasti 80% dari durasi waktu pendek petualangan tersebut saya lalui dengan tutup mata dan perasaan yang tidak nyaman! Salah satu video perjalanan Roller Coaster Parc Asterix saya temukan di Youtube. Hmmm…, saya baru sadar, sudah semakin tua, semakin penakut …… atau ini memang beda dengan Roller Coaster lain yang pernah saya naiki (di Dufan). Belakangan, saya baca satu artikel di Koran Pikiran Rakyat tentang Roller Coaster terbaik (baca: paling mengerikan) di dunia, salah satunya adalah yang di Parc Asterix tersebut. Pantas…..!

parcasterix_rollercoaster.jpg

Mari kita cerita yang menyenangkan. Buat saya sebagai penggemar Asterix, tempat yang paling menyenangkan disana adalah ‘Asterix Village’ atau ‘Desa Asterix’. Begitu masuk, serasa masuk ke dunia yang sama seperti di dalam komik Asterix. Semua tokohnya ada disana, termasuk kepala desa yang ditandu kemana-mana di sekeliling desa tersebut (orang yang nandunya digaji berapa ya? kerjaannya hanya menandu setiap hari).

Me, Asterix, and Obelix

Mau kesana? Ambil RER dari kota Paris menuju Airport Charles de Gaulle. Turun disana, lalu tanya untuk ke Parc Asterix. Kalau tidak salah ada bis menuju ke Parc Asterix dari sana. Situs resmi Parc Asterix ada disini.

- Arry Akhmad Arman -

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,795 other followers