Category Archives: Berlin
Beautiful Berlin at Night (part 3)
Berlin, Dec 2004
All these pictures taken in December 2004 around Zoo train station Berlin using Canon Digital SLR 350D. The result actually not too good, because I use high ISO to get higher speed without tripod. I hope you can still enjoy all the pictures. The other Berlin Night Collections can be seen here: part1, part2.
These two picture show the Kaiser Wilhelm Memorial Church in Kurfurstendamm, near the Zoo station. The original church on the site was built in the 1890s. It was badly damaged in a bombing raid in 1943, during World War.
Beautiful Berlin at Night (part 1)
Berlin, Dec 2004
All these pictures taken in December 2004 using Canon 350D. The result actually not too good, because I use high ISO to get higher speed without tripod. I hope you can still enjoy all the pictures. The other Berlin Night Collections can be seen here.
Akhirnya Salju Turun di Berlin
Berlin, Desember 2004 (EOS 300D, 6MP)
Akhirnya, setelah seminggu tinggal di Berlin (baca: “Akhirnya Aku Tiba di Berlin“), salju mulai turun. “Amazing….” ketika pertama kali melihat turunnya salju dari jendela kamar. Walaupun udara dingin, saya sampai langsung membuka jendela kamar untuk merasakan langsung butiran salju dan mengamatinya dari dekat. Ternyata serpihan salju itu menyerupai kristal. Berikut ini adalah salah satu contoh snowflake yang saya peroleh dari internet.
Ketika salju turun semua permukaan akan tertutup salju yang berwarna putih. Tidak lama setelah itu, salju akan mengeras menjadi es yang akhirnya menyebabkan jalan kaki jadi sulit dilakukan karena licin. Bayangkan kita benar-benar jalan kaki di atas es, betapa dingin dan harus selalu hati-hati. Foto berikut adalah contoh suasana ketika daratan (dan apapun) tertutup salju, sehingga semuanya menjadi putih.
Dini hari, sebelum orang-orang berangkat kerja, biasanya petugas akan membersihkan salju. Minimal di lintasan yang biasanya digunakan untuk jalan kaki. Pembersihan dilakukan mulai dengan menggunakan sekop, mesin yang dipegang sambil berjalan, hingga mesin yang berbentuk mobil kecil khusus untuk membersihkan salju. Foto berikut memperlihatkan contoh permukaan yang sebagian sudah dibersihkan oleh petugas, sehingga memudahkan orang untuk berjalan kaki.

Dini hari, ketika petugas sudah membersihkan salju untuk pejalan kaki (pemandangan dari jendela kamar)
Setelah sekian lama, mengalami musim salju, saya merasa beruntung hidup di negara tropis seperti Indonesia. Perbedaan cuaca di kita tidak pernah ekstrim. Temperatur di musim hujan dan panaspun masih di kisaran selisih yang tidak terlalu besar. Bandingkan dengan negara 4 musim yang temperaturnya bisa berkisar antara minus sekian derajat di musim dingin sampai lebih dari 40 derajat di musim panas.
Nostalgia Salju di Berlin …
Cukup lama saya tidak sempat menyentuh blog saya yang biasanya setiap hari selalu saya update. Kondisi kesehatan yang sedang memburuk, renovasi rumah yang tidak kunjung selesai, dan ….. antri pekerjaan yang tidak kunjung selesai juga, telah membuat saya rela membiarkan hari-hari berlalu tanpa nge-blog walaupun setiap saat online terus di depan laptop atau Sony-Ericson M600.
Ketika minggu siang ini saya mulai membuka laptop di rumah dan memulai dengan membuka detik.com, ada satu artikel yang menarik buat saya yang berjudul “Salju Pertama di Berlin“. Mengapa menarik? Berlin pernah jadi rumah saya selama 4 bulan di akhir tahun 2004 sampai dengan awal tahun 2005 ketika saya berkesempatan melakukan riset di Fraunhofer Institute (di Berlin) setelah mendapatkan Technopreneur Award tahun 2004. Waktu itu saya sengaja memilih kunjungan di akhir tahun karena ingin menikmati kegemaran saya memotret. Saya belum pernah memotret suasana musim salju sebelumnya, kecuali sisa salju dalam satu kunjungan singkat ke Norwegia tahun 1998.
Akhirnya, sedikit bernostalgia, langsung klik koleksi foto di storage 500 giga dan melihat-lihat kembali foto-foto saya di Berlin waktu itu. Pemandangan musim salju memang unik dan istimewa buat kita yang tinggal di negara tropis. Buat yang senang memotret, pemandangan salju tebal dimana-mana plus matahari pagi, menurut saya adalah salah satu yang paling indah. Berikut saya tampilkan beberapa foto saya di Berlin ketika masih ada sisa Salju pada awal Februari 2005.
Tulisan ini adalah salinan dari tulisan di Blog utama saya : kupalima.wordpress.com
Gedung Reichstag, Ikon Berlin Berkubah Transparan
Setiap negara atau kota dunia mempunyai paling tidak satu ikon yang khas yang diketahui banyak orang. Paris memiliki menara Eiffel, Italy memiliki menara Pisa yang miring, Belanda indentik dengan kincir angin, Jakarta punya Monas, dsb. Nah, walaupun banyak objek yang sangat menarik di Berlin, tapi dilihat dari banyaknya antrian untuk mengunjunginya, tampaknya Gedung Reichstag merupakan satu ikon baru yang sangat menarik untuk dikunjungi di kota Berlin. Apa sebenarnya Reichstag? Wikipedia menjelaskan sebagai berikut:
The Reichstag (German for “Imperial Diet“) was the parliament of the Holy Roman Empire, the North German Confederation, and of Germany until 1945. The main chamber of the German parliament is now called Bundestag (“Federal Diet”), but the building in which it meets is still called “Reichstag” (see Reichstag (building)).
The term “Reichstag” (listen ) [ˈʀaɪçstaːk] is a compound of German Reich (“Empire”) and Tag (“assembly”; does not mean “day” here, but is derived from the verb tagen “to assemble”). The Latin term, a direct translation, was curia imperialis. (Still today, the parliaments on the various federal levels in Germany are called Bundestag, Landtag etc., and the parliament in Sweden is called Riksdag.)
Baik, kita kembali ke gedung Reichstag. Apa yang menarik dari gedung ini?
Gedung Reichtag di Berlin (Desember 2004)
Sepintas gedung ini tampak biasa-biasa saja, seperti gedung kuno pada umumnya. Perhatikan satu kubah di atas gedung yang hanya terlihat sedikit dari depan. Itulah bagian yang paling menarik dari gedung ini. Tidak percaya? Mari kita ikut tur sebagai berikut.
Saya sudah dua kali mengunjungi tempat ini. Pertama akhir tahun 2004 sampai awal 2005, ketika musim dingin. Kedua, pertengahan tahun 2006, beserta istri saya dan seorang sahabat. Dari dua kunjungan tersebut, serta dua musim yang berbeda, ternyata antrian untuk mengunjungi gedung ini tidak pernah sepi. Bayangkan, pada saat musim dingin, temperatur udara bisa di bawah nol, tapi tetap saja banyak orang antri. Perhatikan foto antrian pengunjung pada foto di atas. Jadi, siap antri sekitar 1-1,5 jam untuk masuk kesini.
Untuk masuk ke dalam, gratis, bahkan walaupun gratis, kita dibagi brosur gratis multi bahasa. Brosurnya sangat menarik, brosur lipat yang kalau dibuka menjadi kertas panjang yang memperlihatkan view 360 derajat pandangan mata dari kubah transparan di atas gedung. Singkatnya, setelah masuk, kita akan menjalani pemeriksaan yang sangat ketat (tapi ramah), lalu diantar naik lift ke tempat kubah.
Foto di lantai dasar kubah (saya bersama istri, 2006)
Dari posisi foto di atas kita sudah bisa melihat, apa istimewanya kubah tersebut. Ini adalah kubah transparan raksasa yang sangat berkesan hi-tech dan futuristik. Mungkin ingin memberikan kesan bahwa Jerman adalah ahlinya dalam teknologi tinggi. Di kulit bagian dalam kubah ada tangga yang dibuat melingkar menuju ke atas (puncak kubah). Jadi, pengunjung yang ingin menuju puncak, tinggal menelusuri tangga yang cukup landai, akan berputar beberapa kali mengikuti kulit kubah menuju ke atas sambil menikmati indahnya kota Berlin ke berbagai sudut pandang.
Bagian dalam kubah.
Perhatikan jalan melingkar ke atas, serta core (bagian tengah) kubah.
Inti kubah yang terletak di bagian tenga adalah cermin yang disusun seperti foto di atas. Jika kita memandangnya, maka kita bisa melihat cermin diri kita disana. Di bagian bawah inti ini, dikelilingi oleh satu informasi tentang Jerman (perhatikan orang-orang yang sedang membaca).
Mari kita naik ke atas. Jalur melingkar untuk naik ke atas dirancang sangat landai, tidak melelahkan dan tidak terasa tiba-tiba sampai di atas. Mengapa? Karena sepanjang jalur kita bisa memandang ke tengah kubah dan ke bawah, juga ke arah luar menikmati kota Berlin.
Jalur melingkar menuju puncak kubah
Akhirnya kita tiba di puncak kubah. Bagian atasnya ada ruang terbuka ke udara, sehingga kadang ada burung merpati masuk di area puncak kubah. Pemandangan ke luar dan ke dalam dua-duanya sangat menarik. Foto berikut memperlihatkan dua pemandangan tersebut.
Memandang ke arah dalam (bawah) dari puncak
.
Salah satu sisi menarik ke arah luar
.
Nah, itulah salah satu objek menarik di kota Berlin yang menurut saya patut kita kunjungi. Unik!
Bagaimana menuju gedung ini?
- Jika anda sudah berada di gerbang besar Brandenburg, berdirilah di sisi luar, lihatlah sekeliling, seharusnya anda bisa memandang gedung ini
- Jika anda naik bis dari stasiun Zoo menuju Alexander Platz (kalau tidak salah, bis no 100 atau 200), ada tempat berhenti persis di sekitar gedung ini
- Jika anda keluar dari stasiun utama kota Berlin, menyeberanglah, lintasi jembatan, di kejauhan gedung ini pasti sudah kelihatan. Anda akan tiba dari arah yang kira-kira berlawanan dengan arah Brandenburg.
Beberapa sumber lain yang relevan:
- Reichstag Building (Wikipedia)
- Website of Berlin
- Panorama Gedung Reichstag (Interactive Panorama)
- Photo of the Reichstag from 1993
- Photos of the Reichstag from 1989 and Photos of the 1945 Battle for the Reichstag.
- Auf Wieder Sehen (Blog Tuti Nonka)
- Belin, Uber Aller… (Blog Tuti Nonka)
Sisa Tembok Berlin
Berlin, Juni 2006
Salah tempat yang wajib dikunjungi jika anda mampir ke Berlin adalah Tembok Berlin. Tembok ini dulunya memisahkan kota Berlin menjadi dua bagian: Berlin Barat dan Berlin Timur. Tembok ini dibangun pada tahun 1961 oleh Pemerintah Komunis Jerman Timur (cerita selengkapnya bisa dibaca disini). Antara tahun 1949-1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur lari ke Barat melalui Berlin, sehingga Berlin dianggap sebagai lubang yang harus ditutup. Berlin dengan Tembok Berlinnya akhirnya menjadi simbol Perang Dingin yang paling populer. Banyak film dibuat yang berkaitan dengan Tembok Berlin ini, diantaranya adalah film White Night (Gregory Hines, Isabella Rosellini) dengan lagu tema yang dinyayikan oleh Phil Collins & Marilyn Martin (jika tertarik, video clipnya mudah dicari di Youtube).
Tembok yang dulunya menjadi pemisah antara Berlin Barat dan Berlin Timur ketika Jerman belum bersatu , sekarang sudah dirobohkan. Sebagian segmen tembok tersebut disisakan sebagai peninggalan sejarah untuk Jerman dan dunia, juga sebagai objek turis. Sisa tembok tersebut terletak dekat Ostbanhof (Stasiun Timur). Ingin kesana? Turunlah di Ostbanhof, keluar stasiun, pasti anda bisa melihat tembok tersebut. Perlu diketahui bahwa tidak semua lukisan-lukisan di sisa tembok Berlin merupakan lukisan original yang dibuat ketika tembok tersebut belum dirobohkan. Sebagian merupakan lukisan baru yang dibuat setelah tembok dirobohkan.
.
Sudah dua kali saya mengunjungi tembok tersebut. Pertama kali adalah akhir 2004 ketika saya harus melakukan penelitian di Berlin selama 4 bulan, yang kedua adalah tahun 2006 ketika saya mampir di Berlin beberapa hari bersama istri dan seorang sahabat.
Saya dan Tembok Berlin (2004).
Ada posting saya sebelumnya tentang mimpi mempromosikan tembok bergambar di Bandung yang ada kemiripannya dengan Tembok Berlin. Silakan baca posting tersebut disini.




































