Tahun 2000 saya harus melakukan riset selama 4 bulan di kota Mons di Belgia. Namun karena kota tersebut sepi, berbahasa Perancis, dan mungkin tidak ada komunitas Indonesia disana, saya putuskan selama 2 bulan pertama tinggal di kota lain, yaitu Leuven. Ada satu universitas yang terkenal disana, yaitu KU Leuven, dan banyak orang Indonesia yang sekolah disana. Dengan bantuan teman (Lukas, mantan muridku yang sedang sekolah disana), saya bisa memanfaatkan apartemen yang kosong selama liburan. Akhirnya selama 2 bulan pertama saya mondar-mandir setengah panjang negara Belgia, setiap hari naik kereta api, dari Leuven ke Mons.

Singkatnya, Jumat pertama di Leuven saya belum tahu harus pergi shalat Jumat kemana. Lukas yang non-muslim segara minta tolong salah satu rekan muslim yang sedang sekolah disana untuk menjemput saya. Akhirnya saya dijemput dan berkenalan dengan Ade Bagja. Bersama Ade saya pergi ke mesjid (lebih tepatnya ruangan, bukan bangunan khusus berbentuk mesjid). Semua komunitas muslim di Leuven dari berbagai negara shalat Jumat disana. Selesai shalat saya diajak Ade ke rumahnya. Ayo makan siang di rumah saya, kebetulan istri dan anak saya baru saja datang menyusul dari Indonesia. Tentunya buat saya yang sehari-hari makan ala kadarnya, undangan makan tersebut adalah hal istimewa yang tidak boleh dilewatkan. “Ok! Saya ikut!”, jawab saya.

Ida farida, ade bagja, keluarga

Ida Farida (kawan lama) beserta suami, anak, dan ayah mertuanya

Begitu sampai di rumah Ade Bagja, ternyata saya menemukan wajah tidak asing yang membukakan pintu! Ida Farida, teman SMP saya. Wah, dunia memang sempit. Akhirnya, sambil makan siang kami ngobrol dengan hangat tentang masa lalu, tentang kawan-kawan lama dan sebagainya. Teman tersebut sejak dulu sampai sekarang bekerja di Harian Umum Pikiran Rakyat.