Umroh, 15-23 April 2011

Alhamdulillah, dengan berbagai jalan yang tidak terduga, tahun 2011 ini merupakan kesempatan ketiga kalinya saya dapat mengunjungi Mekkah dan Madinah. Pertama, Umroh 2007, lalu Haji 2009, dan kali ini Umroh beserta anak bungsu saya (15-23 April 2011). Suatu kenikmatan yang luar biasa sudah 3 kali menikmatinya….., sudah tiga kali menghampiri makam Rasulullah dan mengucap salam kepada Rasulullah, dan 3 kali berkunjung ke rumah-Nya, menyentuh Ka’bah dan memandang Ka’bah dari dekat.

Muhammad Zhafran Arman, anak bungsu saya, di Masjid Bir Ali, tempat Miqot untuk memulai Umroh
Muhammad Zhafran Arman, anak bungsu saya, di Masjid Bir Ali, tempat Miqot untuk memulai Umroh

Saya merasakan suasana yang berbeda antara Umroh 2011 ini dengan Umroh yang saya lakukan 2007. Beberapa hal yang saya perhatikan berbeda adalah sebagai berikut.

  • Semakin banyak orang lanjut usia
  • Semakin banyak rombongan peserta dari berbagai daerah di Indonesia
  • Semakin banyak peserta yang baru pertama kali naik pesawat terbang dan bepergian ke luar negeri, terlihat dari perilaku di pesawat terbang yang terjadi karena pengetahuan yang masih terbatas, seperti upaya mengeluarkan tas/koper di kabin ketika pesawat baru saja mendarat dan masih berjalan kencang, atau kebingungan ketika pertama kali ke toilet
  • Jumlah peserta umroh dari Indonesia semakin banyak, terasa dari penuhnya restoran di hotel pada saat makan, baik di Mekkah maupun di Medinah
Foto kami berdua, setelah menyelesaikan Tawaf
Foto kami berdua, setelah menyelesaikan Tawaf
Seperti biasa…., Madinah dan Masjid Nabawi memperlihatkan ketenangannya. Seluruh halaman Masjid Nabawi saat ini sudah dipenuhi oleh payung-payung raksasa yang selalu terbuka ketika matahari mulai bersinar dengan panasnya. Pada tahun 2007 payung-payung di halaman tersebut belum ada. Pada saat saya pergi haji 2009, sebagian payung sudah terpasang, sebagian sedang dalam proses pemasangan.
Mekkah terasa jauh lebih panas dari pada Madinah. Rasanya jauh lebih panas dari pada Jakarta (saya tidak sempat mencari info, berapa suhu kota Mekkah saat itu), tapi taksiran saya di atas 35 derajat Celcius. Banyak bangunan yang sedang dirobohkan di sekitar Masjidil Haram, dan banyak pembangunan baru yang masih sedang berjalan di Mekkah. Angin kencang yang sering bertiup di sekitar Masjid, ditambah udara panas, serta debu dari bangunan yang sedang dirobohkan dan sedang dibangun menghasilkan suasana di luar Masjid yang kurang nyaman dan berdebu. Sekali waktu saya mencoba jalan sekitar jam 9 untuk melihat sekitar Masjid dan ingin memotret di sekitar halaman Masjid. Harapan saya, udara tidak akan terlalu panas, karena masih pagi. Ternyata terik sinar matahari pagi tetap terasa sangat menyengat, sehingga akhirnya saya segera kembali ke Hotel.
Saya tidak terbayangkan bagaimana rasa panasnya nanti di puncak musim panas…..
Tapi jangan khawatir, begitu masuk Masjid, kita akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda. Di bagian tertentu malah kita dapat menikmati sejuknya AC yang akan membuat ibadah kita dapat dilakukan dengan nyaman, bahkan saking nyamannya bisa membuat kita terlelap di dalam Masjid.
Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang telah Engkau berikan. Semoga masih ada kesempatan-kesempatan lainnya untuk berkunjung lagi ke rumah-Mu. Amin.