Dresden, 2005

Ketika saya harus tinggal di Berlin selama empat bulan, saya menyempatkan diri mengunjungi keponakan saya (Dina, dan Aan suaminya) bersama keluarganya yang sedang sekolah di TU Dresden selama beberapa tahun. Mereka sudah punya anak dan ikut bergabung ke Dresden. Karena ibu bapaknya adalah keponakan saya, otomatis saya yang merasa masih muda (waktu itu usia baru menjelang 40) dipanggil kakek oleh anak-anak keponakan saya.

Dina, Aan dan cucu-cucu saya....
Dina, Aan dan cucu-cucu saya....

Dalam hal ini banyak faktor kebetulan. Kebetulan di Berlin tinggal sahabat ayah saya yang bernama Om Munaf. Beliau sudah hijrah dan menetap di Berlin sejak sekitar 50 tahun yang lalu. Kebetulan lagi, Om Munaf ini juga adalah sahabat dari ayahnya Dina. Akhirnya kami sepakat untuk pergi bersama pulang pergi Berlin-Dresden naik kereta. Kami pergi naik kereta paling pagi dan kembali ke Berlin naik kereta paling malam.

Dina dan anak-anaknya....
Dina dan anak-anaknya....

Kebetulan lagi, di hari tersebut sedang ada acara kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia disana, yaitu pameran serta pertunjukan kesenian yang dilakukan oleh anak-anak. Karena pertunjukkan tersebut berlangsung malam hari, jadi kami berusaha ikut menyaksikan pertunjukan tersebut setengah main. Berikutnya kami harus segera kembali ke stasiun untuk mengejar jadual kereta untuk kembali ke Berlin.

Berfoto Bersama di Hamparan Salju
Berfoto Bersama di Hamparan Salju

Dresden jauh lebih sepi daripada Berlin. Ketika hari sudah mulai gelap, terasa sekali bahwa kota ini jauh lebih tenang dari pada Berlin. Cerita lebih banyak tentang kota ini dan beberapa foto tentang kota ini dapat dilihat dalam tulisan saya yang lain yang berjudul “Dresden, Kota Menawan di Ujung Timur Jerman

Kereta api Berlin Dresden
Kereta api Berlin Dresden
Advertisements